PARENTIME

SELF REMINDER

CUAP - CUAP

NIKAH ASIK

JALAN BARENG

SCHOLARSHIP



Almamater Universitas Hasanuddin, Karunia Ilahi

25 Desember 2015 by Viki Wulandari


Judul ini saya ambil dari lirik terakhir Mars Unhas (gak kreatip banget yak.. ? ).


28 Maret 2012 lalu menjadi satu momen sakral tersendiri buat seorang anak kampung yang mencoba memperbaiki kehidupan pendidikannya ke Kota Makassar dengan modal beberapa lembar surat penting di tangannya. Melalui sebuah jalur penerimaan yang pada saat itu dinamakan jalur undangan, aku dinyatakan lulus di salah satu jurusan yang katanya akan mencetak ilmuwan handal yang siap berkompetisi di lapangan sebagai ahli biologi.


Setiap yang mempesona adalah sangat mengagumkan. Bertemu dengan orang-orang hebat tidak kemudian menjadikan semakin meninggi, justru hukum padi yang semakin merunduk terlaksana dengan baik. Merasa sangat tidak berdaya dan silau dengan  itu semua. Terlalu kecil untuk muncul ke permukaan, tapi inilah yang dinamakan sebuah proses. Semua yang ada barulah permulaan yang suatu  saat akan mengalami perkembangan hingga akhirnya semua akan berakhir. Fana. Memang begitu adanya.


Aku mengerti bahwa semua orang hebat, dahulunya juga seperti aku yang belum tahu banyak hal. Sekalipun kemampuan yang aku dan mereka miliki itu berbeda, tetapi bukankah aku memiliki waktu yang sama untuk belajar? Itu yang kupegang. Universitas Hasanuddin ini dapat kiranya menjadi rimba raya yang siap mengubah tatanan hidup siapa saja yang mengenalnya. Dari singgasana rektorat yang terhormat, ada sebuah mercusuar yang kelihatannya tidak ada aktivitas kerja keras, tapi disanalah semua diatur. Seperti kerja otak, tidak menunjukkan aktivitas berarti dan hanya diam di dalam tempurung kepala, tetapi kerjanya luar biasa hebatnya. Sedang membaca tulisanku ini saja, membutuhkan ratusan juta koneksi otak yang hebat luar biasa dan sangat patuh pada Sunatullah yang sedemikian apik tersusun tanpa satupun pelanggaran yang kita terima.


Bukan berdiri di atas gagahnya Universitas Hasanuddin aku berbangga, karena apalah kemilaunya prestasiku jika disejajarkan dengan orang-orang yang ada di sini. Aku jadi malu. Tempat ini sudah kuprogram untuk menghabiskan masa produktif. Tidak ada kesempatan untuk menjadi ‘mandul’ karya. Karena kakiku tidak akan dapat bergeser ketika aku diadili dengan pertanyaan, “Untuk apa kau habiskan masa mudamu?”. Pribadi yang layak untuk diperhitungkan telah menjadi harga mati. Sebagaimana kualitas. Membuat orang lain berpikir dua kali untuk menempatkan kita di tempat kurang layak menjadi prioritas utama.


Aku ingat persis saat dulu di SMA aku menjadi salah satu penggerak teman-teman yang sama-sama ingin mengadu nasib ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Mulai dari mencari info dan lain sebagainya. Kami di sekolah saling bahu membahu untuk dapat sama-sama lolos di perguruan tinggi yang sudah menjadi bidikan. Berita dengan keyword perguruan tinggi negeri, beasiswa, jurusan, passing grade, dan hal yang berkaitan layaknya sudah menjadi halaman favorit dan paling sering diketik di pencarian.


Dinyatakan lolos dari jalur undangan dan sekaligus sepaket dengan beasiswa menjadi modal dasar yang menjadikan semangat menjadi lebih membara.  Jalanku di kampus ini menjadi jembatan yang sungguh membuatku teirnspirasi akan banyak hal. Kesibukan di laboratorium menjadikan aku mahasiswa yang kurang banyak bergaul dengan dunia luar yang hedonis. Perguruan tinggi yang sering sekali disebut-sebut menjadi yang terbaik di Indonesia timur ini sudah menjadi tempatku.


Di awal semester tiga, tepatnya akhir September  lalu, satu mimpi ke-3 ku berhasil kucoret dari daftar. Mengunjungi Yogyakarta, Kota Pelajar itu! Dalam sebuah dialog nasional yang mengangkat isu seksualitas dan keragaman itu aku diundang untuk berpartisipasi langsung dan dapat bertemu dengan orang-orang hebat dari berbagai daerah. Saya mampu membuka mata bahwa ternyata apa yang saya pelajari di ruang-ruang cerdas di bangku kuliah ada dan wujud dalam kehidupan nyata. Cerdas dalam tatanan akademik belum ‘keren’ kalau tidak dapat berguna bagi masyarakat. Berbagai pandangan menjadikan sensitifitas lebih peka terhadap toleransi.


Aku menyadari bahwa semua mimpi punya harganya tersendiri. Mahal memang karena dialog nasional yang dilangsungkan merupakan pergerakan sosial yang tidak berlumur dengan dana berlimpah sehingga biaya transportasi ke Yogyakarta menjadi tanggungan sendiri. Untuk mengajukan proposal ke pihak kampus rasanya sudah sangat mepet sehingga aku berpikir merogoh kantong lebih dalam. Sisa uang beasiswa yang cair semester lalu kuprediksi cukup untuk menutupi itu semua. Rasanya, dengan membawa tanggung jawab di pundak dengan biaya di garis akhir adalah sangat berkesan. Tidak ada yang luput dari estimasi. Semua sudah dihitung dengan akurasi yang kurang lebih sangat tepat tetapi ujian selalu datang mendewasakan.


Sebuah berkah datang lagi. National Essai Competition yang diadakan oleh Unviersitas Brawijaya Malang mengumumkan pemenangnya saat raga ini masih di Yogyakarta. Wah, senangnya! Tapi berpikir ulang untuk segera menyetujui undangan itu karena dana yang sudah terestimasi hanya cukup untuk ke Jogja tanpa ke Malang. Tapi Rabbku Maha Tahu. Pertolongannya sangat dekat! Memikirkan keadaan umat adalah sebaik-baik risau pikir. Ketahanan pangan menjadi tema sentral dalam acara yang sekaligus dirangkaikan dengan symposium nasional. Mereka hebat-hebat semua! Penelitian sudah terlalu berbaur dengan mereka. Sementara saya? Jangankan penelitian, essai yang kukirimkan itu adalah essai pertama yang kubuat dan kuikutkan dalam kompetisi. Benar-benar sebuah perjalanan yang membuat hati ini terus menyenandungkan syukur atas nikmat yang diberikan.


Jadi Mahasiswa. Karena ke-MAHA-annya kita ditinggikan. Karena menyandingkan Maha atas Maha Kuasa adalah tanggung jawab. Jangan pernah jadi MAHA biasa!


Menjadi kuat dan tidak melulu melihat kekurangan adalah bekal yang baik dan sangat memberi energi positif untuk terus maju. Sesedikit apapun yang kita miliki jika Tuhan memberi maka akan cukup. Aku tidak pernah takut untuk menuliskan daftar mimpiku karena aku yakin tanganku akan dibantu oleh Rabbku untuk mencentang daftar itu satu per satu. Aku yakin ini yang terbaik yang sudah diberikan padaku. Kini kujalani hidupku menjadi mahasiswa yang tak ingin masa mudanya hanya memegang kartu tanda mahasiswa tanpa ada bukti nyata menjadi ‘agent of change’ untuk bumi pertiwi tercinta.


Semua kisahku adalah layaknya film yang kuputar untuk sajakku sendiri. Tuhanku sudah menggariskannya sejak aku masih satu irama hembusan nafas dengan ibuku dalam rahimnya.  Meretas mimpi dalam kesederhanaan bukan sebagai batu ganjalan yang menghalang tetapi justru sebagai dinamit yang siap meledakkan semangat juang!


Tags : Kampus, Universitas, Hasanuddin, Unhas, Mahasiswa,


Bagikan Artikel ini :


BACA JUGA :


My Pillow Talk ⟶


Genetika Jodoh 20 Juni 2020
[Review] Extraction (2020), Kenangan Yang Lebih Mahal Dari Pengkhianatan 16 Juni 2020
Gerakan Eat The Rainbow Untuk Asupan Gizi Lebih Baik, Gimana Ceritanya? 13 Juni 2020
It is A Girl: Film Dokumenter Tentang Budaya Patriarki Hingga Mengungkap Fakta Female Infanticide 04 Juni 2020
Dalam Tiga Lapis Kegelapan 27 Mei 2020
Ladies, Be Smart (And Beautiful)! 25 Mei 2020
Jadi Ibu Itu Harus Siap Salah 21 Mei 2020
Haid di 10 Hari Terakhir Ramadhan, Jangan Sedih Girls. Masih Bisa Lakukan Ini! 19 Mei 2020
[Review] What Happened To Monday: Sebuah Refleksi Pentingnya Menancapkan Visi Untuk Keluarga 19 Mei 2020
Ingat-Ingat Bayar Zakat! 18 Mei 2020
Merapal Doa Sebelum Ia Tiada 17 Mei 2020
Lebaran Hemat? Bisakah? 16 Mei 2020
Kali Ini Kau Kujelang Dengan Kesendirian 15 Mei 2020
Mudik? Yay or Nay? 14 Mei 2020
Dalam Deru Rindu Yang Menggebu 13 Mei 2020

--Lihat Artikel Lainnya --



Saya ibu satu anak yang senang menuliskan kegiatan sehari-hari saya dan berharap orang lain mendapatkan kebaikan dan hikmah darinya. Saya juga menulis beberapa artikel mengenai perjalanan saya di beberapa tempat.


Website ini adalah tempat saya menuangkan ide dan pendapat tentang suatu hal. Saya juga menerima advertorial. Contoh yang pernah saya kerjakan bisa dilihat disini. Untuk sharing atau bussiness inquiries, bisa email saya di viki.woelandari@gmail.com. Happy reading!


Find Me On :




Silakan Contact untuk mendapatkan e-book ini secara gratis dari saya


Kenapa Pilih Backpacker-an? 
Kenapa Menikah Sebaiknya dengan Yang Selevel? 
Menghormati Vagina 
Ngomongin Otak Perempuan Wilayah Seks 
Gymball Untuk Ibu Hamil 
My First Capsule Hotel 

Proudly Part of :