PARENTIME

SELF REMINDER

CUAP - CUAP

NIKAH ASIK

JALAN BARENG

SCHOLARSHIP



Kenapa Pilih Backpacker-an?

12 April 2020 by Viki Wulandari


Bacpkacker yang baru trending di tahun 2015-an sebenarnya sudah saya jalani pertama kali tahun 2013 lalu. Perjalanan low budget saya pertama kali ke Kota Yogyakarta. Emang yang pertama itu gak mudah untuk dilupakan. Sampai kapan pun, Yogyakarta punya tempat tersendiri buat saya, ia terlalu indah dikenang seumur hidup. Romansanya bikin baper sepanjang jalan. Hingga backpacker pertama saya keluar negeri tahun 2017 karena first anniversary dengan suami.


Backpacker sendiri setahuku adalah perjalanan simpel dengan hanya membawa backpack yang digendong, entah itu low budget atau royal journey. Tapi kayaknya sekarang kalau orang bilang backpacker, identik dengan perjalanan irit pengeluaran. Hingga ada plesetan dari sesama rekan backpacker tentang seberapa penting kita menyusun itinerary dan budget biar di negara orang tidak jadi begpacker. Haha


Cerita perjalanan saya ala-ala backpacker ada beberapa yang sudah saya tuliskan disini:


Kuala Lumpur, Malaysia Part 1, Part 2, dan Part 3


Bangkok, Thailand 


Beberapa waktu lalu, ada postingan dari admin grup facebook Backpacker Dunia, mbak Elok, dia membuat semacam kuis, apa alasan kalian backpacker? Aku jadi mikir, iya ya? Kalau masalah budget mah masih bisa diakali dengan bersabar dan nabung dulu. Aku ikutan jawab, gak lama kemudian ada messanger bunyi “PING”, kulihat dari mbak Elok. Wihhh…mak serr! Ada apa ya?


Ternyata jawabanku dianggapnya boleh diperhitungakan. Beliau minta izin untuk menuliskannya kembali dalam forum yang lebih resmi. Kira-kira begitu. Setelahnya aku baca-baca kembali jawabanku. Rupanya ada beberapa hal yang lebih penting di atas alasan budgetku yang terbatas.Haha


  1. Backpacker itu melatih kemampuan kita untuk mengatur itinerary sendiri. Mungkin aku terlalu lebay, tapi sumpah aku pernah semalaman gak bisa tidur gara-gara penasaran jalur BTS di Bangkok itu apa melewati pasar Chatucak apa enggak. Semalaman itu aku menyusun jadwal dengan rapi lengkap dengan estimasi waktu dan uangnya.
  2. Dengan backpacker, kita jadi siap dengan segala kondisi dan Plan B, Plan C dan seterusnya karena kita sudah mempelajari medan. Ingat temanku yang kuceritakan disini (Keluarga Baik)? Aku yakin beliau sudah mendesain bahwa Plan A adalah begini, ternyata yang terjadi adalah Plan B. What should we do? Ya syukur kalau bantuan pas ada. Dengan mendesain sendiri perjalanan kita, kemungkinan terburuknya sudah terbayang dan kita sudah siap.
  3. Belajar survive dan mandiri di perjalanan travelling itu buatku adalah sangat penting. Pernah waktu aku di Malaysia, aku dan suami kesasar gara-gara mencari loket Bus Hop On Hop Off sampai berkilo-kilo jalan kaki (Baca MENGEJAR BUS HOP ON HOP OFF) karena hanya mengandalkan peta dari Google. Atau saat hotel yang sudah kubayar lunas tidak mengakui pesanan kami, itu semua adalah pelajaran besar yang kalau tidak backpacker, mana pernah aku mengalaminya.


Backpacker sudah banyak mengajarkan aku tentang bagaimana aku pernah dikata-katain kasar sama bule (nanti kapan-kapan aku cerita ya) di pesawat, ketinggalan pesawat hingga lari-larian nyeker dari pos check-in ke body pesawat, pernah ngangkatin barang nenek-nenek tua yang beratnya maksimal bawaan ke kabin, pernah juga katrok moto-moto makanan di pesawat saking herannya, ketahan di bandara gara-gara salah paham sama petugas, juga pernah hampir makan babi di Thailand, untung mbak-mbaknya nanya “Beneran mau beli ini? Ini tuh ada pork-nya loh”. Perjalanan emang selalu asyik buat diobrolin.


Di tengah pandemik kayak gini, aku berdoa semoga setelah ini masih punya kesempatan buat jalan lagi. Get well soon, my dearest earth!


Tags : Backpacker, Travelling, Low-Budget,


Bagikan Artikel ini :


BACA JUGA :


⟵ Lain Syakartum Laadzidannakum I Am His First Client ⟶


Genetika Jodoh 20 Juni 2020
[Review] Extraction (2020), Kenangan Yang Lebih Mahal Dari Pengkhianatan 16 Juni 2020
Gerakan Eat The Rainbow Untuk Asupan Gizi Lebih Baik, Gimana Ceritanya? 13 Juni 2020
It is A Girl: Film Dokumenter Tentang Budaya Patriarki Hingga Mengungkap Fakta Female Infanticide 04 Juni 2020
Dalam Tiga Lapis Kegelapan 27 Mei 2020
Ladies, Be Smart (And Beautiful)! 25 Mei 2020
Jadi Ibu Itu Harus Siap Salah 21 Mei 2020
Haid di 10 Hari Terakhir Ramadhan, Jangan Sedih Girls. Masih Bisa Lakukan Ini! 19 Mei 2020
[Review] What Happened To Monday: Sebuah Refleksi Pentingnya Menancapkan Visi Untuk Keluarga 19 Mei 2020
Ingat-Ingat Bayar Zakat! 18 Mei 2020
Merapal Doa Sebelum Ia Tiada 17 Mei 2020
Lebaran Hemat? Bisakah? 16 Mei 2020
Kali Ini Kau Kujelang Dengan Kesendirian 15 Mei 2020
Mudik? Yay or Nay? 14 Mei 2020
Dalam Deru Rindu Yang Menggebu 13 Mei 2020

--Lihat Artikel Lainnya --



Saya ibu satu anak yang senang menuliskan kegiatan sehari-hari saya dan berharap orang lain mendapatkan kebaikan dan hikmah darinya. Saya juga menulis beberapa artikel mengenai perjalanan saya di beberapa tempat.


Website ini adalah tempat saya menuangkan ide dan pendapat tentang suatu hal. Saya juga menerima advertorial. Contoh yang pernah saya kerjakan bisa dilihat disini. Untuk sharing atau bussiness inquiries, bisa email saya di viki.woelandari@gmail.com. Happy reading!


Find Me On :




Silakan Contact untuk mendapatkan e-book ini secara gratis dari saya


Kenapa Pilih Backpacker-an? 
Kenapa Menikah Sebaiknya dengan Yang Selevel? 
Menghormati Vagina 
Ngomongin Otak Perempuan Wilayah Seks 
Gymball Untuk Ibu Hamil 
My First Capsule Hotel 

Proudly Part of :