PARENTIME

SELF REMINDER

CUAP - CUAP

NIKAH ASIK

JALAN BARENG

SCHOLARSHIP



LPDP, Aku Padamu-Part 1

14 September 2016 by Viki Wulandari


Mengingat semua proses pebelajaran yang saya dapatkan mulai saat pengajuan beasiswa LPDP hingga tanggal 9 September 2016 kemarin saya dinyatakan sah sebagai awardee LPDP, rasanya campur aduk. Banyak yang kemudian bertanya tentang pengalaman dan tips untuk dapat menaklukkan beasiswa yang cukup bergengsi ini. Maaf teman-teman, di atas saya masih banyak yang lebih. Saya hanya mendaftar beasiswa ini dimodali nekat dan tekad. Kalau kalian ingin berguru ke awardee keren, aku mah apa..serasa seperti remah-remah biskuit. Gak ada apa-apanya.


Well, cerita kita mulai!


Tidak ada yang instan untuk sebuah hasil yang akan kita nikmati. Mie yang katanya instan saja masih harus direbus untuk dapat dinikmati. Persiapan berkas untuk pengajuan beasiswa LPDP ini cukup bejibun. Berkas yang dibutuhkan pengurusannya memakan waktu sampai berbulan-bulan. Saya melamar sebagai alumni Beasiswa Bidikmisi melalui jalur afirmasi. Afirmasi ada 3 jenis, alumni bidikmisi cumlaude (masa studi tidak lebih 4 tahun dan IPK di atas 3,5), dari daerah 3T, dan jalur bakat(prestasi nasional).


LPDP sendiri membuka 4 gelombang pendaftaran. Dan saya masuk di gelombang 3 untuk periode ini. penutupan pendaftaran berkas untuk batch 3 ini adalah tanggal 15 Juli 2016. Saya waktu itu sudah di kampung karena lebaran tanggal 6-7 Juli. Saya buru-buru balik ke Makassar karena harus submit berkas sementara saya tidak mendapat koneksi sebagus di Makassar di kampung. Maka saya harus meninggalkan keluarga untuk bisa submit berkas dan melengkapi formulir pendaftaran online yang ada.


Done! Berkas berhasil di submit tanpa kendala yang berarti. Awalnya berkali-kali tidak berhasil karena saya rupanya kurang teliti, jenjang studi saya seharusnya diisi SMP malah saya isi SD lagi. Makanya error terus. Pas nanya ke CSO, disuruh kirim screenshoot, pihak LPDP juga tidak menyadari kesalahan saya. Haha, namanya juga manusia yak. Akhirnya setelah memandangi layar, error itu saya temukan sendiri dan segera melapor ke pihak CSO bahwa masalah sudah teratasi dan alhamdulilah berkas sudah disubmit dengan lancar.


Pengumuman seleksi berkas tanggal 27 Juli 2016. Saya menanti pengumuman seleksi berkas dengan proporsi harap dan cemas yang seimbang. Dari pagi, mungkin ada sekitar 10 kali saya merefresh inbox email menunggu pemberitahuan yang masuk, tapi masih juga belum ada. Pun kalau pengumuman diundur harusnya diberitahukan kapan penangguhannya. Saya malam itu sudah lelah seharian beraktivitas. Akhirnya tertidur tanpa mengetahui pengumuman di tanggal 27 itu. Sampai alarm saya bunyi jam 03.15 a.m dan saya sempatkan merefresh email berharap ada pesan masuk dari LPDP. Dan harapan itu terwujud, saya menerima email dari LPDP sekitar pukul 00.10 WITA. Hasilnya? Alhamdulillah lulus!


Info di facebook berseliweran mengenai pengumuman berkas batch 3 keeseokan harinya. Disitulah awal terbentuknya grup calon awardee LPDP di LINE. Kami saling invite untuk join di grup penuh harapan itu. Dari email pengumuman, terlampir nama-nama calon awardee yang lolos seleksi. Ada yang saling kenal tapi tidak tidak saling tahu. Ada yang saling tahu tapi tidak saling kenal. Saya tidak tahu kalau ternyata senior di biologi, ada dua orang yang melamar di batch 3 bareng saya. dari pembicaraan grup LINE itulah, muncul ide untuk kopdar bareng para awardee yang sudah lolos dan berangkat PK tapi masih di Makassar untuk berbagi cerita, pengalaman dan wawasan. Jadilah rencana dan susunan acara yang disepakati. Kesepakatan membulat di tanggal 14 Agustus di DiLo (Digital Lounge) Jalan Sam Ratulangi. Saya datang sengaja untuk meraba-raba situasi agar tidak canggung pas seleksi substansi yang sesungguhnya. Bersama awardee kami diberikan tips dan saran untuk menaklukkan seleksi substansi yang menjadi penentu akhir perjuangan kami di LPDP batch 3. Simulasi diberikan lengkap, mulai dari penulisan essai, LGD hingga wawancara. Saya waktu simulasi dipertemukan dengan Kak Abay, alumni pendidikan biologi UNM dan akan melanjutkan magister di Universitas Brawijaya. Essai saya pun dikoreksi oleh beliau dengan segala keterbatasan saya. Hiks….Kak Abay, terima kasih banyaaak.


Kami pulang dengan hati yang riang dan sedikit beban yang tidak surut. Baru simulasi sudah setegang itu, apalagi nanti pas sudah seleksi sesungguhnya. Tapi setidaknya dengan diadakan kopdar seperti itu, kami sudah memiliki gambaran suasana nanti akan menjadi seperti apa. Pengumuman seleksi berkas memang belum lama, tapi persiapan adalah peluru di medan tempur yang sebenarnya.


Jadwal seleksi substansi belum turun dari portal. Kami mulai aktif bergabung dengan calon awardee dari kota-kota besar di Indonesia. Saya bergabung di chanel dan grup calon awardee dari Bandung, Jakarta, Surabaya, Yogyakarta, Medan di Telegaram. Hanya calon awardee Makassar yang menggunakan LINE. Haha…mungkin supaya kelihatan lebih ekspresif.


H-7 Seleksi Substansi


Dari simulasi bersama para awardee, kami telah mengetahui bahwa nanti akan dibagi kelompok untuk LGD dan wawancara. Pembagian kelompok ditentukan oleh LPDP entah berdasarkan apa, hanya mereka dan Allah saja yang tahu. Seleksi substansi pekan pertama dilakukan di Surabaya dan Jogja. Saya melihat mereka dibuat bingung oleh pembagian kelompok yang berubah-ubah dan tanggalnya yang masih belum valid hingga h-1 seleksi substansi. Saya jadi ketar-ketir, bisa jadi ini adalah salah satu kendala sehingga kami jadi gagal fokus. Tapi alhamdulillah pekan kedua yaitu Makassar dan Jakarta aman dan terkendali, tidak seperti Surabaya dan Jogja. Sebenarnya tidak berpengaruh sih, tapi kan baiknya sudah dipersiapkan dari jauh hari pembagian kelompoknya. Tapi itulah kenangannya.


H-2 Seleksi Substansi


Saya mendapat jadwal seleksi substansi awalnya tanggal 19 Agustus 2016 seharian full. Verifikasi berkas, LGD, wawancara dan EOTS (Essai on the spot) di hari itu juga. Saya sudah tenang dan ayem karena tidak harus bolak balik dua hari. Rata-rata teman saya mendapatkan jadwal dua hari. Hari pertama untuk verifikasi berkas dan wawancara, besoknya LGD dan EOTS atau sebaliknya. Saya lega karena bernasib baik. Malam itu, semuanya berubah! Jadwal seleksi saya tetap hanya sehari dimulai pukul 13.00, tapi maju menjadi tanggal 18 Agustus. God! Ujian apa ini?!


Di email notifikasi pengumuman, dilampirkan syarat dan ketentuan untuk datang saat seleksi substansi. Ada satu berkas yang belum saya miliki dan terluput dari perhatian saya selama ini. yaitu SKCK (Surat Keterangan Catatan Kepolisian). Bayangkan! Sisa 3 hari dan saya masih belum memegang SKCK. Mungkin kalaian akan berkomentar, SKCK mah sejam juga bisa jadi. Nah, saya juga awalnya berpikiran seperti itu, tapi saya kemudian iseng bertanya ke cleaning service yang biasa membersihkan di asrama, bagaimana prosedur pengurusan SKCK. Alamak! Ternyata harus melewati pak RT, pak RW, kantor kelurahan, Polsek, dan Polda.


Saya tahu itu sudah jam 3 sore. Saya nekat ke rumah pak RT sendirian dan itu untuk pertama kalinya. Saya bertanya ke orang-orang dan akhirnya dapat surat pengantar. Lalu ke rumah pak RW dan semuanya aman terkendali. Lancar. Waktu itu tanggal 16 Agustus, dan besok tanggal merah. Semua pelayanan instansi pasti tutup. Maka saya harus menyelesaikan urusan itu hari itu juga ditambah tanggal 18 Agustus maksima sebelum jam 12 siang.


Komunikasi di grup tidak pernah putus, saya bertanya prosedur pengurusan SKCK dan berapa lama. Support teman-teman sesama calon awardee begitu banyak. Saya teringat Kak Abay dan menceritakan tentang kegalauan ini. Saya berniat untuk tidak datang ke Gedung Keuangan Negara kalau tidak mendapat SKCK. Kak Abay menyampaikan sebuah harapan besar, bahwa di batch 2 dulu juga ada yang tidak membawa SKCK tapi diberi kesempatan besoknya.


Hari-H Seleksi Substansi (18 Agustus 2016)


Saya tidak dapat menceritakan apa yang saya dapatkan di kantor kelurahan tempat saya membuat surat keterangan ini. Prosesnya berbelit karena tenaga dan alat tidak mendukung. Saya menunggu di kantor lurah dari jam 6.30 pagi dan saya baru memegang surat pengantar itu jam 10.00 dengan tambahan saya nge-print di luar, karena printer bermasalah dan pembuat surat sedang berhalangan. Surat pengantar itu langsung saya bawa ke Polsek Tamalanrea. Sampai di sana, saya diperiksa KTP dan malangnya lagi, KTP saya bukan KTP Makassar jadi saya harus punya surat domisili dari kelurahan. Saya kembali ke kelurahan, dan you know what happen. Saya harus kembali dengan kecewa dengan alasan yang sama.


Saya disuruh ke kantor camat untuk membuat surat domisili. Saya ke sana dan hasilnya saya harus ke kelurahan. Saya sudah tidak tahu harus bagaimana lagi. Antara panas, lelah, kecewa, bingung jadi satu. Saya duduk sekenanya di teras kantor camat. Orang mungkin mengira saya kenapa. Ah, bodo amat! Satu-satunya nomor yang layak untuk ditempati cerita hanya satu. Mas! Saya segera meneleponnya. Saat itu dia masih di kantornya dan mengangkat teleponku. Saya langsung menyergapnya dengan keluhan bertubi-tubi dan membiarkan dia bingung harus bagaimana. Tangis saya pecah saat masih bercerita kepadanya. Saya terisak-isak dan saya cuma mendengar dia berkali-kali berkata,”Kenapa? Kenapa? Terus Mas bisa bantu apa? Gimana? Aduh, Mas bingung”. Haha…maafkan aku mas, membuatmu bingung sendiri.


Saat menangis terisak-isak itu, tiba-tiba di kepalaku muncul ide, kenapa tidak ke GKN saja seperti saran Kak Abay, siapa tahu saya dapat keringanan. Oke saya langsung mematikan telepon tanpa bicara apapun. Mungkin saat itu Mas semakin menganggap calon istrinya ini aneh. Setelah menelpon tanpa aba-aba, tiba-tiba menangis di kantor camat, dan sekarang pergi begitu saja tanpa babibu.


Hari-H di Gedung Keuangan Negara


Undangan melalui email di GKN lantai 7 untuk verifikasi berkas, dan lantai 6 untuk LGD dan EOTS. Saya sehari sebelumnya telah ceklok. Mas menunjukkan jalan-jalan yang harus saya lewati agar tidak melanggar lalu lintas dengan penjelasan panjang kali lebar, dan tentunya petuah-petuah mulianya. Rupanya dia telah paham bahwa saya tidak pandai menghapal jalan dan anak rumahan (ceilehhh).


Sampai di GKN, saya salah parkir. Saya lupa bertanya dan begitu pede. Sampai saya bertemu pak satpam dan menunjukkan undangan dari LPDP, ternyata saya salah gedung. Gedung yang dipakai seleksi adalah gedung II dan saya parkir di gedung I. Bodohnya lagi saya mencoba jalan kaki menuju gedung II. Pak satpam mengingatkan saya untuk membawa serta motor karena jaraknya lumayan jauh. Sudah salah parkir, ngeyel pula. Maapkan saya pak satpam.. *sungkem


Sampai di lantai 7, saya bertanya ke petugas yang ada di meja registrasi. Masnya menjawab dengan jawaban yang melegakan. Saya diizinkan masuk ke ruang tunggu. Alhamdulillah! Setelah barcod saya discan untuk presensi, saya masuk ke ruang tunggu yang nyaman, sejuk dan bertemu dengan orang-orang pilihan. Dari aroma dan suasananya sudah tercium, mereka adalah calon bibit unggul masa depan. Di sana baru ketemu dengan teman-teman di grup yang selama ini bercakap secara virtual, sekarang bertemu langsung.


Verifikasi berkas berjalan lancar tapi SKCK saya belum ada sehingga saya hari ini hanya boleh ikut LGD dan EOTS tapi tidak diperbolehkan ikut wawancara. Saya bersyukur dapat hadir di simulasi bersama awardee waktu lalu karena sudah mmepersiapkan banyak hal, termasuk isu-isu terhangat yang sedang menarik diperbincangkan. EOTS berjalan damai dan tanpa kendala yang berarti. Setelah EOTS, kami digiring ke ruangan sebelahnya untuk LGD bersama kelompok yang sudah ditentukan. Kelompok LGD saya minus 3 orang. Dua orang karena gagal di verifikasi berkas, satu orang karena sedang berhalangan hadir dan sedang ada tugas jauh di pedalaman. Kami tersisa 6 orang waktu itu. Saya, Citra, Kak Nini, Sri, Kak Ryan dan Kak satu lagi saya lupa namanya.  EOTS dan LGD selesai sekitar pukul 3 sore. Saya bergegas pulang dan singgah di kantor lurah, untuk mengurus surat domisili.


Allah memang kadang memberi pertolongan di saat-saat terakhir. Saya sampai di kantor lurah saat hampir tutup dan pegawainya bersiap untuk pulang, tapi saya berhasil mendapatkan surat domisili itu hari itu juga. Saya pulang dengan membawa kelegaan lebih banyak. Di samping karena EOTS dan LGD telah rampung dengan lancar, surat domisili juga sudah di tangan. Sehingga besok tinggal ke Polsek dan ke Polda untuk melengkapi dokumen SKCK.


Tags : LPDP, Scholarship, Beasiswa, Kemenkeu,


Bagikan Artikel ini :


BACA JUGA :


⟵ LPDP, Aku Padamu-Part 2 Backpacker Malaysia (4) ⟶


Genetika Jodoh 20 Juni 2020
[Review] Extraction (2020), Kenangan Yang Lebih Mahal Dari Pengkhianatan 16 Juni 2020
Gerakan Eat The Rainbow Untuk Asupan Gizi Lebih Baik, Gimana Ceritanya? 13 Juni 2020
It is A Girl: Film Dokumenter Tentang Budaya Patriarki Hingga Mengungkap Fakta Female Infanticide 04 Juni 2020
Dalam Tiga Lapis Kegelapan 27 Mei 2020
Ladies, Be Smart (And Beautiful)! 25 Mei 2020
Jadi Ibu Itu Harus Siap Salah 21 Mei 2020
Haid di 10 Hari Terakhir Ramadhan, Jangan Sedih Girls. Masih Bisa Lakukan Ini! 19 Mei 2020
[Review] What Happened To Monday: Sebuah Refleksi Pentingnya Menancapkan Visi Untuk Keluarga 19 Mei 2020
Ingat-Ingat Bayar Zakat! 18 Mei 2020
Merapal Doa Sebelum Ia Tiada 17 Mei 2020
Lebaran Hemat? Bisakah? 16 Mei 2020
Kali Ini Kau Kujelang Dengan Kesendirian 15 Mei 2020
Mudik? Yay or Nay? 14 Mei 2020
Dalam Deru Rindu Yang Menggebu 13 Mei 2020

--Lihat Artikel Lainnya --



Saya ibu satu anak yang senang menuliskan kegiatan sehari-hari saya dan berharap orang lain mendapatkan kebaikan dan hikmah darinya. Saya juga menulis beberapa artikel mengenai perjalanan saya di beberapa tempat.


Website ini adalah tempat saya menuangkan ide dan pendapat tentang suatu hal. Saya juga menerima advertorial. Contoh yang pernah saya kerjakan bisa dilihat disini. Untuk sharing atau bussiness inquiries, bisa email saya di viki.woelandari@gmail.com. Happy reading!


Find Me On :




Silakan Contact untuk mendapatkan e-book ini secara gratis dari saya


Kenapa Pilih Backpacker-an? 
Kenapa Menikah Sebaiknya dengan Yang Selevel? 
Menghormati Vagina 
Ngomongin Otak Perempuan Wilayah Seks 
Gymball Untuk Ibu Hamil 
My First Capsule Hotel 

Proudly Part of :