PARENTIME

SELF REMINDER

CUAP - CUAP

NIKAH ASIK

JALAN BARENG

SCHOLARSHIP



Dalam Tiga Lapis Kegelapan

27 Mei 2020 by Viki Wulandari


Tatkala Nabi Yunus ‘alaihissalam ngambek dan memutuskan untuk meninggalkan kaumnya, maka sebuah pelajaran berharga diberikan oleh Allah kepadanya untuk menjadi pembelajaran bagi siapapun yang mau menyelami mutiara hikmah. Nabi Yunus pergi dengan kemarahan dan keputusasaan terhadap kaumnya dan memilih pergi mengarungi lautan dalam sebuah bahtera.


Dalam Al-Qur’an, kisah Nabi Yunus (Dzun Nun) ini ada pada penggalan ayat di QS. Al-Anbiya (21) : 87-88 dan QS. Ash-Shaffat (37) : 139-148. Menurut saya, kisah Nabi Yunus ini punya cerita epik yang sangat keren. Bagaimana bisa penggalan kisahnya menjadi sangat bagus untuk kita ambil dalam kehidupan sehari-hari? Bismillah, kita bahas sedikit-sedikit ya?!


Prolog…


Dalam QS. As-Shaffat (37) ayat 139-148 disitulah cerita tentang Nabi Yunus. Aku pribadi membaca terjemahan ini, mulanya biasa saja tapi setelah mendengar kupasan ayat dari Ustadz Rendy Saputra, rasanya aku ketinggalan banyak. Oh iya, sebagai disclaimer juga, tulisan ini adalah ringkasan dari tadabbur ayat yang dibawakan oleh Ustadz Rendy dalam kajian Dhuha beliau. Jadi, mohon ingatkan saya jika ada yang keliru dan perlu untuk diluruskan ya.


Kembali ke cerita Nabi Yunus ‘alaihissalam,


  (140 )وَإِنَّ يُونُسَ لَمِنَ الْمُرْسَلِينَ (139)  إِذْ أَبَقَ إِلَى الْفُلْكِ الْمَشْحُونِ


"Sesungguhnya Yunus benar-benar salah seorang rasul (139) (Ingatlah) ketika ia lari ke kapal yang penuh muatan". (140)


Disini dijelaskan bahwa Nabi Yunus lari meninggalkan kaumnya dalam keadaan marah dan kecewa. Nabi Yunus tidak mengetahui bahwa dirinya akan melewati sebuah episode kehidupan dan setelahnya Allah abadikan kisahnya dalam kalam mulia yang akan dibaca oleh umat manusia hingga hari kiamat tiba.


(141) فَسَاهَمَ فَكَانَ مِنَ الْمُدْحَضِينَ


"Kemudian ia ikut berundi, lalu dia termasuk orang-orang yang kalah dalam undian". (141)


Dalam perjalanannya, di tengah lautan, perahu yang ditumpangi oleh Nabi Yunus bertemu basai dan dalam keadaan kelebihan muatan. Maka mereka memutuskan untuk melempar semua barang ke laut untuk mengurangi muatan. Apa daya, setelah muatan dilempar, rupanya kapal masih perlu mengurangi muatan sehingga mereka mengadakan undian untuk menentukan nama siapa yang akan dilemparkan ke lautan lepas.


Nabi Yunus dikenal sebagai orang baik, namun namanya tetap keluar dalam tiga kali undian itu. Disebutkan juga, bahwa undian dilakukan sebanyak tiga kali dan nama Nabi Yunus tetap keluar, hingga akhirnya beliau memutuskan untuk menceburkan dirinya ke laut.


(142)  فَالْتَقَمَهُ الْحُوتُ وَهُوَ مُلِيمٌ


"Maka ia ditelan oleh ikan besar dalam keadaan tercela" (142)


Allah memerintahkan seekor ikan paus untuk menelan Nabi Yunus (yang disebutkan dalam ayat ini dalam keadaan tercela). Kenapa tercela? Nah, nanti akan dijelaskan di bawah ya.


(144)  فَلَوْلا أَنَّهُ كَانَ مِنَ الْمُسَبِّحِينَ (143) لَلَبِثَ فِي بَطْنِهِ إِلَى يَوْمِ يُبْعَثُونَ 


"Maka kalau sekiranya dia tidak termasuk orang-orang yang banyak mengingat Allah (143), niscaya ia akan tetap tinggal di perut ikan itu sampai hari berbangkit" (144).


Apa dzikir (tasbihnya) Nabi Yunus? Redaksinya ada di Al-Anbiya (21) : 87.


(146)  فَنَبَذْنَاهُ بِالْعَرَاءِ وَهُوَ سَقِيمٌ (145) وَأَنْبَتْنَا عَلَيْهِ شَجَرَةً مِنْ يَقْطِينٍ


"Kemudian Kami lemparkan dia ke daerah yang tandus sedangkan ia dalam keadaan sakit (145) Dan Kami tumbuhkan untuk dia sebatang pohon dari jenis labu". (146)


Ibnu Abbas radhiallahu’anhu menyebutkan bahwa yang dimaksud dengan al’ara adalah tanah tandus yang tidak ada tumbuhan dan tidak ada pula bangunan. Nabi Yunus dihempaskan oleh ikan paus itu dalam keadaan sangat payah. Pohon ‘yaqtin’ yang disebutkan dalam ayat ini oleh sebagian mufassir diartikan sebagai labu.


(148) وَأَرْسَلْنَاهُ إِلَى مِائَةِ أَلْفٍ أَوْ يَزِيدُونَ (147) فَآمَنُوا فَمَتَّعْنَاهُمْ إِلَى حِينٍ


"Dan Kami utus dia kepada seratus ribu orang atau lebih (147) Lalu mereka beriman, karena itu Kami anugerahkan kenikmatan hidup kepada mereka hingga waktu yang tertentu". (148)


Ini dia ayat kunci yang akan kita bahas nantinya. Jadi, Nabi Yunus yang seorang nabi saja diberikan ujian dan pelajaran hidup sedemikian rupa oleh Allah, apalagi kita yang bukan siapa-siapa.


Allah Tolong dalam Kegelapan


kegelapan yang berlapis


Perhatikan ayat yang saya katakan sebagai kunci pembahasan kita sekarang ini, yaitu rangkaian cerita dari QS. As-Shaffat : 139 lalu puncaknya pada ayat 147-148. Allah menunjukkan dengan bahasa yang super cantik. Lihat ya, dari awal dikisahkan bahwa Nabi Yunus pergi dalam keadaan marah karena umatnya tidak mau beriman. Dalam arti lain, Nabi Yunus kabur dan berputus asa dari rahmat Allah. Kondisi inilah yang di ayat 142 dinyatakan dengan ‘keadaan tercela’. Hingga cerita beralur Nabi Yunus naik kapal, dibuang ke laut, ditelan ikan paus, beliau berdzikir, hingga dimuntahkan di tanah tandus. Itu semua bukan cerita tanpa makna.


Ayat 143-144 menjelaskan bahwa pertolongan Allah disebabkan karena Nabi Yunus berdzikir kepada Allah. Redaksi dzikirnya begini,


وَذَا ٱلنُّونِ إِذ ذَّهَبَ مُغَٰضِبًا فَظَنَّ أَن لَّن نَّقْدِرَ عَلَيْهِ فَنَادَىٰ فِى ٱلظُّلُمَٰتِ أَن لَّآ إِلَٰهَ إِلَّآ أَنتَ سُبْحَٰنَكَ إِنِّى كُنتُ مِنَ ٱلظَّٰلِمِينَ

Dan (ingatlah kisah) Dzun Nun (Yunus), ketika ia pergi dalam keadaan marah, lalu ia menyangka bahwa Kami tidak akan mempersempitnya (menyulitkannya), maka ia menyeru dalam keadaan yang sangat gelap: "Bahwa tidak ada Tuhan selain Engkau. Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku adalah termasuk orang-orang yang zalim". (QS. Al-Anbiya: 87)
 


Pertolongan yang Allah berikan kepada Nabi Yunus bukanlah pertolongan kaleng-kaleng. Luar biasanya, Allah memberikan pertolongan yang benar-benar sebuah pertolongan. Nabi Yunus terkepung dalam perut ikan yang gelap, bahkan disebutkan bahwa kegelapan yang dialaminya adalah tiga lapis kegelapan sekaligus: gelapnya perut ikan, gelapnya lautan dan gelapnya malam. Hanya pertolongan Allah-lah yang dapat menyelamatkan Nabi Yunus dalam gelap yang benar-benar pekat ini.


Keluar Dari Masalah A, Masuk Ke Masalah B


Gambaran pertolongan yang Allah berikan kepada Nabi Yunus adalah sebenar-benar skenario pertolongan yang sempurna. Andai saja Nabi Yunus dimuntakan oleh ikan paus di tengah lautan, barangkali ia tidak akan mencapai daratan dengan selamat. Andai saja Nabi Yunus dimuntahkan ikan paus di daratan yang tidak ada ‘yaqtin’ maka bisa saja ia mati kelaparan dalam keadaan susah payah. Pertolongan Allah disetting sedemikian rupa hingga semuanya berakhir indah.


Manusia kadang lemah dalam memandang jalan keluar baginya. Kadang ia menganggap bahwa jalan itu adalah sebuah solusi, padahal itu hanyalah sebuah jalan baru menuju masalah selanjutnya. Dzikir Nabi Yunus dalam perut ikan ini menyebabkan Allah menurunkan skenario solusi terbaik baginya yang tuntas. Kita sebagai hamba kadang hanya berputar-putar dalam lingkaran (yang kita anggap sebagai) solusi, padahal ya kita cuma lompat-lompat dari masalah satu ke masalah lainnya.


problem solving


Kadang-kadang kita bertempur di titik medan perangnya saja, hanya di situ-situ saja. Apakah ada jaminan langsung beres? Tidak juga. Lalu kenapa kita tidak meniru tasbihnya Nabi Yunus ini untuk membujuk Allah menyiapkan solusi yang benar-benar menuntaskan masalah kita?


Dikepung Di Sini, Beres Di Sana


Pelajaran selanjutnya ada pada ayat QS. As-Shaffat: 147-148. Nabi Yunus melewati episode kehidupan ini awal mula akar masalahnya adalah karena putus asa dan marah kepada kaumnya karena tidak mau beriman kepada Allah. Barangkali jika ini terjadi kepada kita, maka kita akan menggerutu menyalahkan akar sebab masalah yang kita hadapi. Tapi lihatlah bagaimana Allah membereskan masalah Nabi Yunus dengan solusi tuntas setuntas-tuntasnya.


Ketika Nabi Yunus kembali kepada kaumnya, Allah menurunkan 100k followers yang beriman kepada Allah. Cash! Allah berikan seratus ribu pengikut kepada Nabi Yunus, padahal ia tidak melakukan dakwah dan terkurung dalam pekat kegelapan di dalam perut ikan. Lalu bagaimana bisa, pengikutnya tiba-tiba sebanyak itu sepeninggalnya? Allah kuasa, makhluk tidak kuasa!


Sangat mudah bagi Allah membolak-balik hati manusia sekehendak-Nya. Urusan sangat mudah bagi Allah untuk mengubah keadaan dari ingkar menjadi beriman.


Hati-Hati Para Da’i


Kisah ini memberikan sangat banyak ‘tamparan’ keras untuk kembali memeriksa diri-diri kita. Khusus kepada para da’i yang berniat ‘lari’ dalam keadaan kecewa, marah dan terluka hatinya dari medan dakwah seperti Nabi Yunus, hati-hatilah! Pesimis dan mulai lari dari kebaikan dakwah itu sama dengan menyemai bibit kerugian untuk diri kita sendiri.


“Ah, dakwah juga gini-gini aja. Gak ada yang ikut, organisasinya juga berkelahi doang, gak ada pengikut yang nambah”.


Padahal kata Umar bin Khattab, “Kekeruhan dalam kebersamaan itu lebih baik daripada kejernihan dalam kesendirian”. Kenapa dalam dakwah banyak gesekannya? Ya iyalah, soalnya yang diurusi ini orang banyak, sangat wajar terjadi gesekan. Kenapa sendiri lebih damai? Lha wong ngurusi dirimu sendiri, gak damai gimana?


Tamparan keras ini juga mengenai saya yang selama ini vakum dari kumpul-kumpul di taman syurga. Rasanya kangen sekali ada di antara orang-orang shalih shalihah yang berilmu. Memang bada hawanya ketika kita ada bersama-sama dengan ketika sendiri. Ya emang lebih adem ayem, tapi ada yang hampa.


Jangan-Jangan Kita Sedang ‘Di Dalam Perut Ikan’


Hutang gak lunas-lunas, cicilan berbunga makin banyak, anak gak bisa diatur, suami kerjanya ngeluyur gak jelas mulu, istri jadi pembangkang, keluarga berantakan, ekonomi carut marut, keluarga besar pecah belah, usaha bangkrut, harta disita, tabungan amblas.


Kenapa hidup jadi seakan-akan gelap gulita? Curigalah, barangkali kondisimu sedang ada di dalam perut ikan seperti episode Nabi Yunus. Nabi Yunus dikepung oleh tiga lapis kegelapan sekaligus. Hitam, pekat, tak teraba. Maka jalan keluarnya adalah kembalilah pada Allah. Tiru dzikir Nabi Yunus agar diberikan solusi yang tuntas-setuntas-tuntasnya, bukan berputar melompat-lompat dari lubang masalah satu ke lubang masalah yang lain.


Ini Jurusnya


لَّآ إِلَٰهَ إِلَّآ أَنتَ سُبْحَٰنَكَ إِنِّى كُنتُ مِنَ ٱلظَّٰلِمِينَ


Laa ilaaha illaa anta… (Tidak ada Tuhan selain Engkau)


Bergantung hanya pada Allah


Maka ketika kegelapan itu sudah menyelimuti, masalah hidup sudah kian pekat dan berat, maka lepaskan semua gantungan kepada selain Allah. Peganglah Allah sebagai satu-satunya tempat berpegang, itu adalah tali paling kuat untuk menggantungkan semua masalah. Pasrahkan semuanya hanya pada Allah. Satu-satunya!


Subhaanaka… (Maha Suci Engkau)


Maha suci Allah


Sucikan Allah dari skenario yang salah, kekurangan dan kesalahan. Bagian ini kita disuruh untuk membebaskan Allah dari kesalahan, segala kebodohan dan kekurangan yang kita miliki. Seringkali kita marah, Ya Allah, kenapa harus saya, kenapa harus keluarga saya? Kita marah menyalahkan Allah. Apakah lantas Allah salah kasih musibah? Seolah-olah kita menganggap bahwa kemampuan Allah itu terbatas sehingga bisa terjadi kesalahan.


Sampai sini sudah merasa tercabik-cabik? Segeralah beristigfar dan mohon ampun atas semua prasangka buruk yang pernah terlintas dengan menyalahkan Allah atas gelapnya kehidupan yang dijalani.


Inni kuntuminaddholimiin… (Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang zhalim)


Istigfar


Fokuslah pada kesalahan! Koreksi diri sendiri dan berhenti menyalahkan orang lain di sekitar kita. Konsep Inni kuntuminaddholimin ini, kalau dibawa dalam bingkai rumah tangga akan sangat indah sekali.


Suami merasa istri susah diatur, anak berantakan. Dengan mengetahui hakikat dzikir Nabi Yunus yang mau memuhasabah dirinya sendiri, maka suami ini akan merefleksikan dirinya ke dalam. Sudahkah introspeksi diri? Sudahkah mereka diajari ngaji, diajari agama, diajari mengenal Allah? Sudahkah dikenalkan pada hadits-hadits? Sudahkah diberikan contoh yang baik dan menjadi teladan untuk mereka? Akhirnya akan ketemu di satu titik, “Ya Allah, memang aku yang salah”.


Istri merasa suaminya ogah-ogahan, anak susah diatur, keluarga berantem mulu. Tanyakan pada diri sendiri. Sudahkah aku mendoakan mereka saat bersimpuh di hadapan Allah? Sudahkah menjadi istri shalihah? Sudahkah memberikan pelayanan terbaik? Sudahkah bersyukur dengan semua yang ada sekarang ini? Maka akan ketemu di satu titik, “Pantas suami begitu, rupanya aku begini. Ya Allah, aku yang salah”.


Kalau keluarga sudah menerapkan ‘inni kuntuminaddholimin’, maka gak akan ada waktu buat gontok-gontokan lagi karena masing-masing tahu harus berbuat apa, mau melihat ke dalam apa yang sudah dilakukannya, tahu kesalahan apa yang harus dibenahi. Keluarga begini kalau ketemu yang ada akan saling memaafkan, peluk-pelukan karena mau menyadari kekurangan dan kesalahan masing-masing. Bukankah keributan-keributan yang tercipta itu hanya karena tidak ada yang mau merasa disalahkan?


Yok, Mulai Sekarang!


Dzikir Nabi Yunus ini aku sudah tahu sudah sejak lama tapi baru aku tahu kajiannya sekarang ini. Alhamdulillah, berkah WFH jadi punya banyak waktu untuk ngaji lebih banyak lagi. Ternyata, kejadian NaBI Yunus ditelan ikan dan diselamatkan itu menyimpan banyak sekali hikmah di dalamnya. Sekelas Nabi saja pake acara ditelan ikan segala untuk menegurnya bahwa apa yang dilakukannya itu adalah sebuah kekeliruan. Sekelas Nabi saja diberikan hukuman seberat itu tidak komplain dan justru menundukkan dirinya dalam dzikir dan ibadah, rasanya malu dengan keadaan diri kita yang tidak diberi tugas seberat Nabi, ujiannya pun masih standar, tapi begitu dapat masalah dan dikasi ‘kegelapan’, misuhnya Na’udzubillah.


Tags : Tafsir, Al-Quran, Nabi, Yunus, Kegelapan,


Bagikan Artikel ini :


BACA JUGA :


⟵ It is A Girl: Film Dokumenter Tentang Budaya Patriarki Hingga Mengungkap Fakta Female Infanticide Ladies, Be Smart (And Beautiful)! ⟶


Genetika Jodoh 20 Juni 2020
[Review] Extraction (2020), Kenangan Yang Lebih Mahal Dari Pengkhianatan 16 Juni 2020
Gerakan Eat The Rainbow Untuk Asupan Gizi Lebih Baik, Gimana Ceritanya? 13 Juni 2020
It is A Girl: Film Dokumenter Tentang Budaya Patriarki Hingga Mengungkap Fakta Female Infanticide 04 Juni 2020
Dalam Tiga Lapis Kegelapan 27 Mei 2020
Ladies, Be Smart (And Beautiful)! 25 Mei 2020
Jadi Ibu Itu Harus Siap Salah 21 Mei 2020
Haid di 10 Hari Terakhir Ramadhan, Jangan Sedih Girls. Masih Bisa Lakukan Ini! 19 Mei 2020
[Review] What Happened To Monday: Sebuah Refleksi Pentingnya Menancapkan Visi Untuk Keluarga 19 Mei 2020
Ingat-Ingat Bayar Zakat! 18 Mei 2020
Merapal Doa Sebelum Ia Tiada 17 Mei 2020
Lebaran Hemat? Bisakah? 16 Mei 2020
Kali Ini Kau Kujelang Dengan Kesendirian 15 Mei 2020
Mudik? Yay or Nay? 14 Mei 2020
Dalam Deru Rindu Yang Menggebu 13 Mei 2020

--Lihat Artikel Lainnya --



Saya ibu satu anak yang senang menuliskan kegiatan sehari-hari saya dan berharap orang lain mendapatkan kebaikan dan hikmah darinya. Saya juga menulis beberapa artikel mengenai perjalanan saya di beberapa tempat.


Website ini adalah tempat saya menuangkan ide dan pendapat tentang suatu hal. Saya juga menerima advertorial. Contoh yang pernah saya kerjakan bisa dilihat disini. Untuk sharing atau bussiness inquiries, bisa email saya di viki.woelandari@gmail.com. Happy reading!


Find Me On :




Silakan Contact untuk mendapatkan e-book ini secara gratis dari saya


Kenapa Pilih Backpacker-an? 
Kenapa Menikah Sebaiknya dengan Yang Selevel? 
Menghormati Vagina 
Ngomongin Otak Perempuan Wilayah Seks 
Gymball Untuk Ibu Hamil 
My First Capsule Hotel 

Proudly Part of :