PARENTIME

SELF REMINDER

CUAP - CUAP

NIKAH ASIK

JALAN BARENG

SCHOLARSHIP



Genetika Jodoh

20 Juni 2020 by Viki Wulandari


Waktu kuliah S1 semester 3, aku belajar sedikit tentang genetika. Waktu itu genetika masih digabung sehingga jadi 5 SKS. Belajar genetika itu asik, tapi sambil menghayal gimana bentuk DNA dan RNA ku di dalam sel sana ya? Sampai sekarang pun, pelajaran genetika ini masih menyimpan banyak kenangan dan pembelajaran berarti untuk semakin mengakui eksistensi Tuhan, Rabb pemilik segala di alam semesta. Pokoknya, kalau sudah belajar genetika sama biologi molekuler, susah untuk meniadakan ‘kekuatan super power’ di balik canggihnya tubuh kita. Masyaallah!


Waktu itu, aku pikir, “Ada benarnya kata orang, memperbaiki keturunan itu sangat mungkin tapi kita tidak bisa memilih peluang”. Ada orang yang berniat memperbaiki keturunan, tapi nyatanya malah anaknya makin turun standar ekspektasi. Sampai pernah aku nemu anekdot genetika tentang Einstein. Einstein punya wajah yang kurang tampan, tapi memiliki otak yang sangat cerdas makanya dia ingin mencari istri yang sangat cantik walaupun otaknya sedikit bodoh. Yang diharapkan dari persilangan ini adalah wajahnya mirip ibunya, otaknya mirip Einstein. Nyatanya, wajahnya mirip Einstein dan otaknya mirip ibunya. Gubraakkk…


Baca juga Ngomongin Otak Perempuan Wilayah Seks


Memperbaiki keturunan gak semudah itu, meski peluangnya selalu ada. Sayangnya, kita tidak punya kuasa untuk ikut campur memilah gen mana yang akan ‘ditampilkan’ pada anak kita. Jangankan wajah, golongan darah saja yang dikandung di dalam rahim seorang ibu, belum tentu bisa sama dengan ibunya. Apalagi peluang-peluang yang standar errornya lebih besar dari itu misal kontur wajah, warna kulit, dan lain sebagainya.


Silsilah Keluarga Itu Ngaruh Gak Sih?


Nah ini yang sempat mengahantui pikiranku sebelum aku berjodoh dengan suami. Pernah ada seseorang yang ingin mendekat dan berniat baik ingin menuju taraf pendekatan yang lebih serius. Tapi kata beberapa orang yang kupercaya, silsilah orang tuanya kurang bagus. Aku yang sedikit pernah belajar tentang analisis pedigree jadi maju mundur dengan teratur. Asal bukan maju mundur cantik kayak Syahrini aja. Wkwkwk


Sebenarnya, lingkungan itu punya andil yang sangat besar dalam membentuk karakter seseorang. Tapi tetap saja kan, gen tetap ada bahkan sampai ke anak cucu. Soalnya dalam beberapa contoh kasus, justru gen generasi pertama itu akan muncul pada generasi kedua bahkan ketiga. Yakali, daripada ambil resiko yang dipakenya sehidup semati mending ambil keputusan sekarang juga. Iya nggak?


Ulasan ini pernah juga kubahas sedikit di Bibit, Bebet dan Bobot


Anakku Dominan Mirip Kemana?


Kalau keseluruhan, kuakui anakku memang hampir duplikat bapaknya. Entah kalau golongan darahnya dia ikut ke siapa. Aku O, bapaknya B maka kemungkinannya hanya O atau B. Sejak anakku lahir, aku sudah menghitung beberapa hal yang bisa dilihat secara langsung dia ini ikut ke gennya siapa. Yagitu, walaupun berlebihan tapi penasaran juga.


Widow’s Peak


Widow’s peak adalah garis rambut yang membentuk V di atas dahi (perhatikan gambar). Orang yang memiliki widow’s peak dahinya di perbatasan tumbuhnya rambut biasanya akan tampak seperti huruf M jika dilihat dari depan. Aku dan suami tidak memiliki widow’s peak, tapi bapakku punya dan sangat jelas sekali. Aku mengamati anakku apakah akan memiliki atau tidak dan itu baru kelihatan akhir-akhir ini setelah rambutnya tumbuh panjang dan lebat. Dahi anakku juga tidak memiliki widow’s peak seperti kami karena barangkali aku adalah pembawa alel resesif sehingga tidak punya widow’s peak.


genetika jodoh


Gambar pedigree di atas adalah gambar pohon silsilah keluarga yang melibatkan tiga generasi yang menunjukkan pewarisan sifat kemunculan widow’s peak di keluarga itu. Sifat adanya widow’s peak ini disebabkan oleh alel dominan yang kita misalkan dengan W. Karena alel widow’s peak adalah dominan, maka semua individu yang punya widow’s peak pastilah bergenotip dominan (WW atau Ww) sehingga mengkode munculnya widow’s peak. Rumit ya? Memang penurunan sifat itu unik. Kita gak pernah tahu sifat yang tampak itu dapatnya dari siapa. Bisa dari orang tua, kakek nenek bahkan buyut. Jadi kita gak sembarang nge-judge anak yang gak mirip dengan kedua orang tua itu adalah ‘anak tetangga’, bisa jadi dari kakek nenek atau buyutnya. Who knows? Kecuali mungkin golongan darah yang jenisnya terbatas dan jelas.


Cuping Telinga


Pertama kali bisa mengamati dengan teliti suami, yang tak luput dari penglihatan adalah cuping telinganya. Cuping telingaku, bapak dan mamakku adalah tipe yang menggantung, bukan yang melekat. Maka ini bisa jadi dasar yang cukup kuat untuk melihat apakah anakku akan mewarisi gen cuping melekat atau menggantung soalnya suamiku cuping telinganya melekat. Wkwkwkwk


pedigree


Lagi-lagi gen yang mengkode cuping telinga yang menggantung adalah alel dominan (F), maka jika seseorang berfenotip cuping telinganya menggantung maka genotipnya adalah (FF atau Ff). kuperhatikan cuping telinga anakku adalah tipe yang menggantung, sama sepertiku. Berarti ia mewarisi genku yang menyandi cuping telinga. Yes, akhirnya tampak juga gen warisanku yang tidak dimiliki oleh bapaknya.


Belajar Pedigree, Belajar Silsilah


Makanya Islam sangat menjaga kejelasan nasab dan silsilah keluarga karena genetik itu adalah warisan yang akan diberikan ke anak cucu secara turun temurun. Dalam genetika, tidak hanya seremeh cuping menggantung atau melekat, atau punya widow’s peak atau tidak, kulitnya warna apa cenderung ikut siapa, tapi ada juga yang namanya penyakit genetik yang diwariskan ke keturunan. Pernah dengar bahwa mereka yang memiliki riwayat orang tua diabetes, akan berpeluang mengidap diabetes lebih besar dibandingkan mereka yang tidak punya riwayat silsilah keluarga pengidap diabetes. atau hemofilia, atau buta warna. Itu semua adalah gen-gen warisan dari orang tua.


Baca juga LPDP, Aku Padamu Part-1


Memperbaiki keturunan itu bukan hanya persoalan fisik semata, tapi juga tentang memperbaiki silsilah dan nasab. Dicarikan nasab yang baik merupakan salah satu hak anak yang harus orang tua pikirkan sebelum memutuskan untuk menikah. Anak-anak kita berhak mendapatkan keluarga dari garis keturunan yang baik, yang terhormat, yang santun sehingga kelak gennya juga mengalir ke darah dan urat nadi mereka. Makanya tidak heran jika dulu kerajaan-kerajaan memanfaatkan pernikahan sebagai penyambung dan memperbesar kekuatan, karena silsilah yang baik itu akan menjaga aliran genetik, meski harus tetap diingat bahwa lingkungan punya pengaruh yang cukup besar.


Sebelum memutuskan dengan siapa, pastikan keluarga besarnya punya kebaikan nasab yang jelas. Tidak perlu sempurna karena itu akan mustahil kamu dapatkan. Agamanya adalah prioritas utama, tapi jangan abaikan aliran gennya yang akan diwarisi oleh anak-anakmu kelak.


Tags : Pedigree, Silsilah, Keturunan, Genetika, Gen, Jodoh,


Bagikan Artikel ini :


BACA JUGA :


Mau Warna Apa? Hilzea Pilihannya ⟶


Genetika Jodoh 20 Juni 2020
[Review] Extraction (2020), Kenangan Yang Lebih Mahal Dari Pengkhianatan 16 Juni 2020
Gerakan Eat The Rainbow Untuk Asupan Gizi Lebih Baik, Gimana Ceritanya? 13 Juni 2020
It is A Girl: Film Dokumenter Tentang Budaya Patriarki Hingga Mengungkap Fakta Female Infanticide 04 Juni 2020
Dalam Tiga Lapis Kegelapan 27 Mei 2020
Ladies, Be Smart (And Beautiful)! 25 Mei 2020
Jadi Ibu Itu Harus Siap Salah 21 Mei 2020
Haid di 10 Hari Terakhir Ramadhan, Jangan Sedih Girls. Masih Bisa Lakukan Ini! 19 Mei 2020
[Review] What Happened To Monday: Sebuah Refleksi Pentingnya Menancapkan Visi Untuk Keluarga 19 Mei 2020
Ingat-Ingat Bayar Zakat! 18 Mei 2020
Merapal Doa Sebelum Ia Tiada 17 Mei 2020
Lebaran Hemat? Bisakah? 16 Mei 2020
Kali Ini Kau Kujelang Dengan Kesendirian 15 Mei 2020
Mudik? Yay or Nay? 14 Mei 2020
Dalam Deru Rindu Yang Menggebu 13 Mei 2020

--Lihat Artikel Lainnya --



Saya ibu satu anak yang senang menuliskan kegiatan sehari-hari saya dan berharap orang lain mendapatkan kebaikan dan hikmah darinya. Saya juga menulis beberapa artikel mengenai perjalanan saya di beberapa tempat.


Website ini adalah tempat saya menuangkan ide dan pendapat tentang suatu hal. Saya juga menerima advertorial. Contoh yang pernah saya kerjakan bisa dilihat disini. Untuk sharing atau bussiness inquiries, bisa email saya di viki.woelandari@gmail.com. Happy reading!


Find Me On :




Silakan Contact untuk mendapatkan e-book ini secara gratis dari saya


Kenapa Pilih Backpacker-an? 
Kenapa Menikah Sebaiknya dengan Yang Selevel? 
Menghormati Vagina 
Ngomongin Otak Perempuan Wilayah Seks 
Gymball Untuk Ibu Hamil 
My First Capsule Hotel 

Proudly Part of :