PARENTIME

SELF REMINDER

CUAP - CUAP

NIKAH ASIK

JALAN BARENG

SCHOLARSHIP



It is A Girl: Film Dokumenter Tentang Budaya Patriarki Hingga Mengungkap Fakta Female Infanticide

04 Juni 2020 by Viki Wulandari


Aku adalah anak perempuan dari seorang ibu dan melihat film ini dari kaca mata emosional seorang ibu yang memiliki anak perempuan. Film ini sudah rilis sekitar pertengahan Februari 2018. Di tengah-tengah kita barangkali mungkin tidak asing dengan kisah orang-orang di masa jahiliyah sebelum Islam datang yang mengubur anak perempuannya hidup-hidup. Dan sedihnya, tradisi itu masih tumbuh subur di era yang katanya modern seperti sekarang ini di belahan dunia lain yang barangkali kita tidak pernah mendengar dan tahu.


Latar belakang terjadinya female infanticide (pembunuhan terhadap bayi perempuan) ini bermacam-macam sesuai dengan budaya yang dimiliki oleh masyarakatnya. Di India dan China, praktik pembunuhan bayi perempuan yang tidak diinginkan ini masih sangat banyak terjadi. Ini bagi saya agak lucu sekaligus ironis. Di India, mereka punya banyak dewi-dewi yang disembah dan diagungkan, tapi bahkan bayi-bayi perempuan tidak berdosa malah mereka binasakan.


‘It’s A Girl’


Buat kalian yang ingin nonton film dokumenter ini, bisa di link Youtube berikut ini. Oh iya, sekedar saran, sebaiknya 'kosongkan gelas' dulu ya sebelum nonton agar lebih jernih melihat sesuatunya.



Dalam sebuah scene permulaan, sebuah tanya jawab antara seorang pengelola panti asuhan dengan perempuan yang (saya kira) pernah membunuh anaknya, “What were the methods you used to kill children?” (Gimana caramu membunuh anak-anak itu?)


Ibu itu menjawab, “by pouring acid to suffocate..sometimes by strangulation…” (dengan cara dituangin asam hingga mati lemas, atau bisa juga dengan mencekiknya…) dengan cengengas cengenges tanpa ada isak tangis sama sekali padahal saya yang menonton sudah mimbik-mimbik, mataku sudah kabur sama air mata. Bahkan dicontohkan pula cara mereka menghabisi nyawa bayi-bayi perempuan malang itu.


Baca juga Jadi Ibu Itu Harus Siap Salah


“So they crush the neck, or they put the cloth on the face. Sometimes they put some rice, the child will die. Sometimes they give poison, some drops of poison in the milk. There are special plant, if they take the milk that plant, the child will die”. Tambah speechless aku dibuatnya.


“Dowry system is one of the main problems for female feticide. It is because of this that girls are considered a burden”. (Sistem dowry –mas kawin- adalah masalah utama pembunuhan atas bayi-bayi perempuan. Atas dasar inilah seorang perempuan dianggap sebagai sebuah beban)


Di India, kelahiran seorang bayi perempuan membawa kesedihan bagi keluarga besarnya, terlebih ibunya karena itu artinya ia akan segera kehilangan bayi yang dicintainya. Kasus female infanticide di India begitu menyakitkan bagi perempuan. Kelahiran perempuan dianggap sebagai sebuah beban dan kesedihan karena adanya budaya dowry (mas kawin) yang ditanggung oleh pihak perempuan ketika akan menikah, dan ini tentu sangat menghimpit bagi keluarga dengan latar belakang ekonomi bawah. Ya, mas kawin di sana diberikan oleh pihak perempuan. Aku langsung ingat film 3 Idiots yang keluarganya miskin dan kakak perempuannya gak kawin-kawin karena gak punya mas kawin. Haa..itu sudah. Bahkan bukan hanya orang tuanya yang terbebani, sampai pada saudara laki-lakinya pun juga merasa ikut terbebani dengan kelahiran saudari perempuannya.


Para ibu di India barangkali tega membunuh bayi-bayi perempuan mereka begitu lahir daripada harus menyaksikan anak-anak perempuannya menanggung beban hidup yang bertumpuk-tumpuk  hingga menemui kematiannya perlahan-lahan. Jadi tidak hanya karena semata-mata mas kawin yang mahal, tapi melihat mereka tumbuh dalam kekerdilan dan tekanan bagi mereka lebih menyiksa. Suami-suami dan mertua mereka mengambil jalan dan pemikiran yang sama, bahwa anak laki-laki adalah anugerah dan investasi bagi keluarga besar sedangkan perempuan hanyalah sebuah beban berat bagi keluarga.


Baca juga What Happened to Monday: Sebuah Refleksi Film Pentingnya Visi dalam Keluarga


Seorang Gynecologist, Dr. Puneet Bedi mengatakan,”Infanticide was very horrible, very terrible thing to live with for the rest of your life. So the medical profession provided an easy, kinder way of killing. As if killing before birth some how made it kinder, killing behind an operation theatre table makes it less gory, less bloody. Now infanticide to a smaller level has occurred throughout history. But when female feticide came, it was so easily socially acceptable”. Betapa mengerikannya!


Lanjutnya, “In the worst time in history, in Medieval times, not more than 1, 2, 3, 4 percent girl children were killed at birth as infanticide. But now in modern societies like India and China, 20, 25, 30% of girls are being killed before birth”. Gilak ya?! Jaman now masih segini datanya.


Kesaksian seorang dokter obgyn yang bikin saya makin lesu, bahwa mereka sengaja membunuh para bayi perempuan itu ketika operasi, atau bahkan sesaat setelah lahir karena itu akan mengurangi kengerian dan pembunuhan sadis yang berdarah-darah. Aku heran, bagaimana mungkin dalam sebuah keluarga butuh seorang perempuan untuk jadi istri dan menantu bagi anak laki-laki kesayangannya, sementara dia membunuh anak kandungnya sendiri setelah tahu bahwa itu perempuan?


Penelitian Tentang Female Infanticide


Data riset oleh unwanted.interactivethings.io menyebutkan bahwa 629.000 perempuan berusia 0-6 tahun diperkirakan hilang di India setiap tahunnya. Kebanyakan dari mereka diaborsi sejak dalam kandungan, sebagian lainnya dibunuh, dibiarkan atau diabaikan hingga meninggal hanya karena mereka berjenis kelamin perempuan. Jika ditarik pada data yang lebih sederhana, setiap 50 detik ada sepasang orang tua yang membunuh anak perempuan mereka di India. Permasalahan mendalam dari masalah ini adalah pada budaya patriarki yang masih mengakar kuat di dalam masyarakatnya. Mereka menerjemahkan secara berlebihan sebuah preferensi yang terobsesi kepada anak laki-laki dan mendiskriminasi anak perempuan.


Baca juga Ladies, Be Smart (And Beautiful)!


Masih menurut data yang sama, mereka melakukan pembunuhan atasa bayi-bayi perempuan mereka dengan berbagai cara, diantaranya dengan cara digugurkan, diabaikan, dikubur hidup-hidup, diracun, dihantam dengan batu, dibuat kelaparan dengan tidak memberi makan, dibiarkan terinfeksi penyakit dan tidak dibawa berobat ke dokter, atau disekap dengan menggunakan bantal hingga meninggal. Sangat relevan dengan film It’s A Girl yang kujelaskan di atas. Dan sedihnya lagi, mereka mengutarakan itu tanpa ada air mata.


No More Younger Sister


Aku lupa menggambarkan dalam film itu dikatakan bahwa anak perempuan pertama yang lahir akan dibiarkan hidup. Tapi lagi-lagi, anak pertama perempuan itu dibiarkan hidup dengan tujuan untuk membantu ibunya melakukan pekerjaan rumah atau kelak akan bisa berguna untuk membantu mengasuh saudara-saudaranya yang diharapkan adalah laki-laki. Mengetahui fakta ini, terlalu sakit rasanya menjadi anak perempuan yang tidak diinginkan bahkan oleh orang tua sendiri. Bahkan jika dibiarkan hidup pun, ada maksud dan tujuan lain di baliknya. Satu-satunya sumber kasih sayang dan perlindungan yang seharusnya diperoleh dari orang tua justru ingin meniadakan mereka, luka seperti apa yang lebih menyedihkan dari ini? 


female infanticide


Data berikut menunjukkan bahwa persentase kesempatan anak perempuan untuk bertahan dan dibiarkan hidup semakin menurun untuk anak kedua perempuan dan seterusnya. Dalam keluarga dengan anak sulung perempuan, anak perempuan kedua memiliki peluang lebih kecil, terlebih lagi untuk anak perempuan ketiga. Hal ini juga dikarenakan keluarga biasanya hanya dapat membayar satu dowry saja sehingga mereka tidak menginginkan anak perempuan lebih dari satu. Sebenarnya adanya dowry atau mas kawin ini sudah termasuk illegal sejak 1961 (Dowry Prohibition Act) tapi praktik ini tetap saja tersebar luas pada kasta, agama dan level pendidikan.


female infanticide


Data sex ratio di India pada tahun 2005. Peluang hidup untuk anak kedua perempuan menurun dan sangat rendah jika ia mempunyai kakak perempuan. Persentase anak perempuan yang hilang untuk anak ketiga jauh lebih besar lagi. Source: https://unwanted.interactivethings.io/


Penelitian oleh Professor Prabhat Jha dkk. (2011) meneyebutkan bahwa peluang bertahan hidup untuk anak perempuan kedua yang mempunyai kakak sulung perempuan menjadi lebih kecil jika keluarga itu berpendidikan dan kaya. Ya, kalian gak salah baca. Aku awalnya membaca artikel jurnal ini sampe beberapa kali cek bolak balik di Google Translate untuk meyakinkan apa yang aku tangkap dari membaca pintas itu artinya memang demikian. Aku pikir, semakin berpendidikan sebuah keluarga itu, maka peluang membiarkan hidup anak perempuan kedua lebih besar. Nyatanya justru sebaliknya.


female infanticide


Ternyata, fakta mencengangkan ini didukung oleh beberapa sebab. Keluarga yang kaya dan berpendidikan ini umumnya tinggal di daerah perkotaan yang lebih maju sehingga akses ke dokter untuk melakukan USG lebih mudah dan mereka mampu untuk membayar harga aborsi bayi mereka jika diketahui berjenis kelamin perempuan. Lagi dan lagi, sebenarnya aborsi berdasarkan jenis kelamin ini sudah dinyatakan ilegal oleh pemerintah, namun nyatanya masih banyak klinik yang menyediakan layanan ini. Pada komunitas masyarakat yang lebih miskin, mereka punya akses ke USG lebih sedikit dan tidak bisa membayar praktik aborsi, maka yang terjadi adalah anak-anak perempuan itu dibiarkan lahir lalu dibunuh atau dibiarkan hingga meninggal karena terabaikan.


female infanticide


Data dengan latar belakang orang tua yang kaya dan pendidikan orangtua >10 tahun ternyata tidak memberikan perbedaan yang signifikan dalam hilangnya bayi-bayi perempuan yang lahir setelah memiliki kakak perempuan. Source: https://unwanted.interactivethings.io/


Lalu Kenapa Perempuan Tidak Diharapkan?


female infanticide


Alasan mendasar yang membuat para orang tua itu dengan penuh kesadaran membunuh anak-anak perempuan mereka, setidaknya ada empat alasan, yaitu:


  1. Anak perempuan dianggap tidak dapat membantu mereka dalam bekerja
  2. Anak perempuan tidak bisa meneruskan nama/silsilah keluarga
  3. Mereka membutuhkan dowry yang mahal untuk keluarga mempelai laki-laki. Dalam film dokumenter yang aku nonton itu, disebutkan bahwa dowry yang mereka keluarkan untuk menikahkan putri mereka adalah dari hasil menjual separuh tanah yang mereka miliki dan berbagai hadiah-hadiah lainnya. Nasib malang malah menimpa putri mereka, yang dalam penuturan orang tua ini, putrinya justru dibunuh oleh suaminya tetapi pemutar-balikan fakta terjadi dimana-mana.
  4. Setelah menikah, anak perempuan ini akan tinggal di rumah mertuanya dan tidak bisa merawat orang tuanya sendiri di masa tua kelak.


Islam Agama Fitrah


Aku ngeri membayangkan di tengah derasnya zaman digitalisasi seperti ini tapi di belahan dunia lain sana masih ada budaya jahiliyah yang sudah diruntuhkan Islam sejak lebih dari 1400 tahun yang lalu. Lalu aku bertanya-tanya, tapi kenapa Islam hingga hari ini masih juga dikatakan sebagai agama patriarki, padahal jelas-jelas ialah agama yang mampu merobek setidaknya enam budaya patriarki sekaligus di tengah Arab jahiliyah melalui Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wassalam. Dalam The Status of Women in Early Islam, Freda Hussain menyebutkan bahwa keenam tradisi kuno itu sangat memuliakan posisi perempuan. Mulai dari tradisi penguburan bayi perempuan, hak waris, ikatan pernikahan, kontrol wanita atas mas kawin yang akan diterimanya, nafkah, hingga beberapa aturan dalam pernikahan.


Baca juga Menghormati Vagina


Tidak bijak rasanya membandingkan sesuatu yang tidak apple to apple, tidak pada tempatnya. Betapa beruntung seorang muslim yang bisa meresapi agama fitrah penuh dengan tuntunan dan pandangan ideologi yang sempurna. Aku hanya ingin mengatakan bahwa Islam itu menyelimuti seluruh sendi-sendi kehidupan bahkan tiada satu perkara pun yang luput dari tuntunan yang sesuai dengan fitrah seorang manusia. Benar, aku baru beberapa lama mempelajari dan tahu bahwa Islam itu tidak sekedar ibadah dan berbuat baik, tidak hanya sekadar amal, pahala dan dosa tapi jauuh lebih luas dari itu. Urusan negara, militer, pemerintahan, sains, teknologi, ahh..pokoknya lengkap lah ada di dalam Islam semuanya. Semakin kamu tahu tentang betapa luasnya panduan sesuai fitrah yang diberikan Islam, semakin bikin kecanduan. Serius!


Doakan sehat dan diberi kesempatan, lain kali kita bahas dan tulis dengan data-data pendukung yang cukup untuk ngobrolin yang barusan ya?!  


 


Referensi bacaan:


unwanted.interactivethings.io/


India's missing girls: fears grow over rising levels of foeticide


How pink sweets are challenging gender prejudice in south Asian communities


A Fight to Save Baby Girls in India


Indian father accused of killing baby 'for being a girl'


Bhaskar, V dan B. Gupta, 2007. India’s missing girls: biology, customs, and economic development. Oxford Review of Economic Policy, Volume 23, Number 2, 2007, pp.221–238. https://www.ucl.ac.uk/~uctpvbh/sexratio-oxrep.pdf


Jha, P., Kesler, MA., Kumar, R., Ram, F., Ram, U., Aleksandrowicz, L., Bassani, DG., Chandra, S., Banthia, JK. (2011). Trends in selective abortions of girls in India: analysis of nationally representative birth histories from 1990 to 2005 and census data from 1991 to 2011. The Lancet. UK. 


Tags : Film, Documenter, It-is-a-girl, Female, Infanticide, Gendercide,


Bagikan Artikel ini :


BACA JUGA :


⟵ Gerakan Eat The Rainbow Untuk Asupan Gizi Lebih Baik, Gimana Ceritanya? Dalam Tiga Lapis Kegelapan ⟶


Genetika Jodoh 20 Juni 2020
[Review] Extraction (2020), Kenangan Yang Lebih Mahal Dari Pengkhianatan 16 Juni 2020
Gerakan Eat The Rainbow Untuk Asupan Gizi Lebih Baik, Gimana Ceritanya? 13 Juni 2020
It is A Girl: Film Dokumenter Tentang Budaya Patriarki Hingga Mengungkap Fakta Female Infanticide 04 Juni 2020
Dalam Tiga Lapis Kegelapan 27 Mei 2020
Ladies, Be Smart (And Beautiful)! 25 Mei 2020
Jadi Ibu Itu Harus Siap Salah 21 Mei 2020
Haid di 10 Hari Terakhir Ramadhan, Jangan Sedih Girls. Masih Bisa Lakukan Ini! 19 Mei 2020
[Review] What Happened To Monday: Sebuah Refleksi Pentingnya Menancapkan Visi Untuk Keluarga 19 Mei 2020
Ingat-Ingat Bayar Zakat! 18 Mei 2020
Merapal Doa Sebelum Ia Tiada 17 Mei 2020
Lebaran Hemat? Bisakah? 16 Mei 2020
Kali Ini Kau Kujelang Dengan Kesendirian 15 Mei 2020
Mudik? Yay or Nay? 14 Mei 2020
Dalam Deru Rindu Yang Menggebu 13 Mei 2020

--Lihat Artikel Lainnya --



Saya ibu satu anak yang senang menuliskan kegiatan sehari-hari saya dan berharap orang lain mendapatkan kebaikan dan hikmah darinya. Saya juga menulis beberapa artikel mengenai perjalanan saya di beberapa tempat.


Website ini adalah tempat saya menuangkan ide dan pendapat tentang suatu hal. Saya juga menerima advertorial. Contoh yang pernah saya kerjakan bisa dilihat disini. Untuk sharing atau bussiness inquiries, bisa email saya di viki.woelandari@gmail.com. Happy reading!


Find Me On :




Silakan Contact untuk mendapatkan e-book ini secara gratis dari saya


Kenapa Pilih Backpacker-an? 
Kenapa Menikah Sebaiknya dengan Yang Selevel? 
Menghormati Vagina 
Ngomongin Otak Perempuan Wilayah Seks 
Gymball Untuk Ibu Hamil 
My First Capsule Hotel 

Proudly Part of :