PARENTIME

SELF REMINDER

CUAP - CUAP

NIKAH ASIK

JALAN BARENG

SCHOLARSHIP



Kenapa Menikah Sebaiknya dengan Yang Selevel?

16 April 2020 by Viki Wulandari


Aku pernah ngepos sedikit cuap-cuap di instastory yang aku highlight di ‘Half Diin’ tentang sekufu seirama. Dalam Islam-pun sudah ada istilah sekufu’ atau bisa diartikan selevel, sebanding, atau sejajar. Tentu hal ini tidak hanya tentang dunia melulu, tapi juga tentang pemahaman, akidah, dan yang paling penting adalah pengamalan dari ilmu agama yang diketahui. Karena tanpa pengamalan, ilmu yang banyak pun rasanya dikali nol.


Kemudian ada segelintir orang yang menanyakan, bahwa aku dinikahi oleh Mas karena aku sudah sekufu’ dengannya? Bisa ya, bisa tidak. Kalau dalam masalah pendidikan, pemahaman agama yang baik, dan selera kami memang sekufu, tapi dalam latar belakang keluarga kami agak sedikit berbeda tapi tidak juga terlalu mencolok perbedaannya. Aku ada di tengah-tengah keluarga yang moderat. Di keluarga besarku ada beberapa orang ‘nasabah prioritas’ di bank dengan usaha mereka masing-masing yang lahir dari latar belakang usaha dengan memeras keringat dan pantang menyerah. Kalau di keluarga Mas, semua tante-tante dan omnya adalah orang berpendidikan tinggi dan beberapa punya jabatan penting. So, bisa dibayangkan kan bagaimana suasana grup keluarga masing-masing kan? Haha


Awalnya, aku yang minder karena dari keluargaku belum ada yang lebih tinggi dari level sarjana. Tapi memang sekufu’ itu bukan cuma tentang dunia, sekali lagi. Ia juga tentang pemahaman dan akhlak yang baik. Sejauh ini setelah aku masuk di keluarga besarnya, ya memang nuansanya berbeda. Kalau aku di keluargaku yang menonjol adalah sisi kebersamaan, gotong royong dan low profile-nya. Kalau aku masuk di keluarga Mas, yang jadi bahasan ya tentang teknologi terbaru apa, kemajuan-kemajuan sekarang ini, dan visi ke depan itu bagaimana. Makanya, satu lagi fitur perempuan yang musti kita install sebelum menikah itu adalah ‘pandai membawa diri’. Ngomongin visi jauh ke depan ayok, ngomongin petani galau karena hama juga oke aja.


Baca juga Kalau Suamimu Diambil Pelakor


Menikah dengan yang selevel memang tidak menjamin kebahagiaan dan kehidupan rumah tangga akan tenang damai tapi setidaknya ada hal-hal yang baik yang tidak perlu lagi kamu pusingkan untuk mengurusi ketidaksamaan itu. Manusia itu fitrahnya adalah berkumpul dengan orang yang sama dengannya, makanya kalau semuanya beda dan tidak selaras, maka energi-energi yang harusnya bisa kita gunakan untuk maju, malah teralihkan untuk mengurusi perbedaan-perbedaan yang melelahkan.


Harga Diri Itu Penting


Siapa bilang dalam pernikahan tidak lagi mengulang-ulang tentang harga diri? Justru dengan pernikahan, harga diri itu jadi hal yang harus dijunjung tinggi. Dulu aku bercita-cita punya suami yang levelnya semua harus di atasku, atau minimal sama. Kenapa? Karena aku tahu diri. Aku tipe perempuan yang kritis melihat sesuatu. Ya aku gak mau dong, suamiku plelat-plelet sementara istrinya bisa lincah dan cekatan di segala bidang. Ya aku mikir dong, suamiku tidak bisa tampil maju sebagai orang yang bisa diandalkan sementara aku pernah memegang 3 jabatan penting di organisasi yang berbeda.


Aku harus bisa menakar, pribadi seperti apa yang akan memimpinku. Aku tidak bisa membayangkan, seorang saya dikomando oleh orang yang tidak sama sekali  punya kapasitas bahkan untuk dirinya sendiri. Bukannya sombong, tapi coba ukur pakai kaca mata kalian sendiri. Bagaimana rasanya?


Menikah itu untuk partner seumur hidup. Aku gak mau ambil resiko menjatuhkan harga diri suamiku saat aku merasa dominan lantas mengabaikannya dan meremehkan dia.


Aku mau suami itu punya power yang tidak dimiliki istri, yang bisa bikin istrinya segan (bukan takut), dan meletakkan kepercayaan kendali rumah tangga. Karena aku menganggap harga diri dia harus dijunjung tinggi, makanya aku memandang bahwa sekufu itu penting. Salah satunya untuk sama-sama bisa menghargai.


Apakah kalau tidak sekufu, tidak bisa menjaga harga diri?


Mungkin bagi orang lain bisa, tapi buat aku pribadi agak sulit. Aku lebih mengenal watakku sendiri. Aku takut di tengah perjalanan, terbersit sedikit pikiran aku jumawa dan angkuh terhadap pasanganku, soalnya latar belakang keluargaku mendukung, pendidikanku menjulang terlalu jauh dibanding dia, obrolan kami jadi sedikit tidak nyambung, apalagi jika ditambah jika kelak penghasilanku jauh lebih banyak dari dia. Ya Allah, murka-Mu terlalu jelas membayang di depan mataku. Aku takut melukai harga diri suamiku, bahkan hanya dalam bersitan pikiran, makanya kalau aku dimintai pendapat, aku cari aman saja: cari yang selevel.


Energi Maju Melesat Lebih Banyak


Ini yang aku bilang tadi. Energi kita yang harusnya buat melesatkan potensi setelah menikah justru habis hanya untuk menyamakan frekuensi. Hei gadis, biar kuberi tahu ya, setelah menikah tantangan untuk terus berkarya itu lebih kompleks, lebih butuh banyak energi. Jangan mau buang-buang energi buat galau-galauan karena baper karena frekuensimu belum nyambung sama dia.


Udah banyak contoh kasus yang kayak gini, coba inget-inget kasus di sekitarmu. Kasus jauhnya rentang perbedaan bikin salah paham dan pertengkaran itu banyak yang udah kejadian. Yang satu merasa apa yang dilakukan masih wajar, satunya merasa itu sudah keterlaluan. Dan hal remeh temeh kayak gitu kalau sudah menyinggung level salah satu pihak, bakal sensitif.


Menikah Itu Bukan Hal Coba-Coba


Tidak ada yang menjamin siapa nyaman dengan siapa, tapi dengan selevel, setidaknya satu seat berantem-mu sudah teramankan. Jangan pikir menikah itu badainya ecek-ecek sekelas gak balas WA jadi ngambek, gak sekecil itu, Nona. Karena dalam menikah, menyatukan keluarga besar dan menyatukan kepentingan-kepentingan itu suatu usaha yang butuh energi besar.


Selamat berencana!


Tags : Sekufu, Selevel, Sepadan, Menikah, Pernikahan,


Bagikan Artikel ini :


BACA JUGA :


Surat Cinta AirAsia ⟶


Nursery Room yang Dirindukan 03 Desember 2020
Dimsum Anti GTM-GTM Club 12 Agustus 2020
Cinta di Perjalanan 03 Agustus 2020
Berkurban, Bukan Potong Sapi 31 Juli 2020
Pola Asuh Lintas Generasi 07 Juli 2020
Bekal Untuk Suami 01 Juli 2020
Genetika Jodoh 20 Juni 2020
[Review] Extraction (2020), Kenangan Yang Lebih Mahal Dari Pengkhianatan 16 Juni 2020
Gerakan Eat The Rainbow Untuk Asupan Gizi Lebih Baik, Gimana Ceritanya? 13 Juni 2020
It is A Girl: Film Dokumenter Tentang Budaya Patriarki Hingga Mengungkap Fakta Female Infanticide 04 Juni 2020
Dalam Tiga Lapis Kegelapan 27 Mei 2020
Ladies, Be Smart (And Beautiful)! 25 Mei 2020
Jadi Ibu Itu Harus Siap Salah 21 Mei 2020
Haid di 10 Hari Terakhir Ramadhan, Jangan Sedih Girls. Masih Bisa Lakukan Ini! 19 Mei 2020
[Review] What Happened To Monday: Sebuah Refleksi Pentingnya Menancapkan Visi Untuk Keluarga 19 Mei 2020

--Lihat Artikel Lainnya --



Saya ibu satu anak yang senang menuliskan kegiatan sehari-hari saya dan berharap orang lain mendapatkan kebaikan dan hikmah darinya. Saya juga menulis beberapa artikel mengenai perjalanan saya di beberapa tempat.


Website ini adalah tempat saya menuangkan ide dan pendapat tentang suatu hal. Saya juga menerima advertorial. Contoh yang pernah saya kerjakan bisa dilihat disini. Untuk sharing atau bussiness inquiries, bisa email saya di viki.woelandari@gmail.com. Happy reading!


Find Me On :




Silakan Contact untuk mendapatkan e-book ini secara gratis dari saya


Kenapa Pilih Backpacker-an? 
Kenapa Menikah Sebaiknya dengan Yang Selevel? 
Menghormati Vagina 
Ngomongin Otak Perempuan Wilayah Seks 
Gymball Untuk Ibu Hamil 
My First Capsule Hotel 

Proudly Part of :