PARENTIME

SELF REMINDER

CUAP - CUAP

NIKAH ASIK

JALAN BARENG

SCHOLARSHIP



Mudik? Yay or Nay?

14 Mei 2020 by Viki Wulandari


Baru beberapa jam yang lalu, ada berita yang menghebohkan dunia maya, antrean di bandara Soekarno-Hatta mengular dan membludak luar biasa. Aku yang melihat berita itu antara percaya dengan tidak. Bagaimana mungkin perjuangan kita sama-sama social distancing selama ini ambyar gara-gara sebagian orang justru malah nekat mudik dengan segala resiko yang mengintai. Kami juga jauh dari keluarga, kami juga rindu dengan keluarga, tapi semua kami tahan demi menghambat laju Covid-19 ini. Saat melihat berita itu, rasanya seperti dikhianati. Kecewa sekali. Tapi aku sadar juga, bahwa menyalahkan pihak-pihak tertentu itu tidak menuntaskan masalah sama sekali.


Setelah banyak membaca informasi dari sumber-sumber lainnya, aku kemudian sadar bahwa tidak mungkin pemerintah membiarkan begitu saja semuanya ini terjadi tanpa ada respon. Meski masih tidak percaya dan sedikit kecewa, tapi semoga itu adalah pilihan terbaik yang mereka tempuh.


Merunut kabar dari berita laman Covid19.go.id, para calon penumpang diharapkan telah menyiapkan dokumen yang dibutuhkan sesuai yang dipersyaratkan pada Surat Edaran Nomor 4 Tahun 2020 tentang Kriteria Pembatasan Perjalanan Orang dalam Rangka Percepatan Penanganan COVID – 19.


“Adapun dokumen yang diverifikasi sebagai syarat agar calon penumpang dapat memproses check in antara lain tiket penerbangan, surat keterangan dinas, surat bebas COVID-19, dan dokumen lainnya sesuai yang tercantum dalam Surat Edaran No. 4/2020 tentang Kriteria Pembatasan Perjalanan Orang Dalam Rangka Percepatan Penanganan COVID-19 yang diterbitkan Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19,” ucap Senior Manager of Branch Communication and Legal Febri Toga Simatupang dalam rilis AP II terkait peristiwa tadi pagi.


Yay or Nay?


Beberapa pekan lalu kami masih berharap bahwa pandemi ini akan segera berlalu dan kami optimis akan bisa pulang mudik untuk berlebaran di kampung halaman. Tapi rupanya harapan kami pupus dan tak bisa diharapkan lagi. Kenyataan di depan mata yang kian mengkhawatirkan tentang angka-angka yang semakin menanjak. Makin hari bukannya makin turun tapi makin naik, maka sejak dua minggu yang lalu aku bincang-bincang dengan suami untuk memikirkan bagaimana jalan tengahnya.


Mudik atau tidak?


Kami memutuskan untuk lebaran di Makassar saja, tidak pulang kampung karena akan sangat beresiko, baik di perjalanannya atau di kampung halaman nantinya. Belum lagi kalau kami harus menjalani masa isolasi mandiri selama 14 hari lamanya. Lalu cuti kami hanya akan habis untuk isolasi mandiri tanpa bisa mengunjungi sanak saudara di kampung.


Rasanya sama saja bohong. Makanya kami memutuskan untuk berlebaran di Makassar. Ini adalah lebaran pertama (dan semoga satu-satunya) bagi kami berdua untuk tidak pulang saat lebaran begini, berhubung aku dan suami kebetulan satu kampung yang sama.


Alhamdulillah, Tak Mudik


Banyak kerabat dan kenalan yang bertanya, mudik apa enggak?


Aku jawab, alhamdulillah insyaallah lebaran di Makassar saja, kali ini tidak mudik. Tak mudik bukan berarti tak cinta kan ya? Saat sekarang ini, justru bukti cinta adalah dengan tidak mudik. Cinta pada diri sendiri, pada keluarga, pada sanak saudara di kampung juga. Insyallah dengan tidak mudik, kami sekeluarga sudah memantapkan hati untuk itu. Kami sudah mulai mempersiapkan kue lebaran, dekorasi rumah dan kesiapan-kesiapan lainnya untuk lebaran di rumah kami di tanah rantau.


Mudik atau enggak?


Ada yang samaan? Lebaran kali ini tidak mudik?


Tags : #BPNRamadan2020, #BloggerPerempuan, Mudik, Yes, or, No,


Bagikan Artikel ini :


BACA JUGA :


⟵ Kali Ini Kau Kujelang Dengan Kesendirian Dalam Deru Rindu Yang Menggebu ⟶


Nursery Room yang Dirindukan 03 Desember 2020
Dimsum Anti GTM-GTM Club 12 Agustus 2020
Cinta di Perjalanan 03 Agustus 2020
Berkurban, Bukan Potong Sapi 31 Juli 2020
Pola Asuh Lintas Generasi 07 Juli 2020
Bekal Untuk Suami 01 Juli 2020
Genetika Jodoh 20 Juni 2020
[Review] Extraction (2020), Kenangan Yang Lebih Mahal Dari Pengkhianatan 16 Juni 2020
Gerakan Eat The Rainbow Untuk Asupan Gizi Lebih Baik, Gimana Ceritanya? 13 Juni 2020
It is A Girl: Film Dokumenter Tentang Budaya Patriarki Hingga Mengungkap Fakta Female Infanticide 04 Juni 2020
Dalam Tiga Lapis Kegelapan 27 Mei 2020
Ladies, Be Smart (And Beautiful)! 25 Mei 2020
Jadi Ibu Itu Harus Siap Salah 21 Mei 2020
Haid di 10 Hari Terakhir Ramadhan, Jangan Sedih Girls. Masih Bisa Lakukan Ini! 19 Mei 2020
[Review] What Happened To Monday: Sebuah Refleksi Pentingnya Menancapkan Visi Untuk Keluarga 19 Mei 2020

--Lihat Artikel Lainnya --



Saya ibu satu anak yang senang menuliskan kegiatan sehari-hari saya dan berharap orang lain mendapatkan kebaikan dan hikmah darinya. Saya juga menulis beberapa artikel mengenai perjalanan saya di beberapa tempat.


Website ini adalah tempat saya menuangkan ide dan pendapat tentang suatu hal. Saya juga menerima advertorial. Contoh yang pernah saya kerjakan bisa dilihat disini. Untuk sharing atau bussiness inquiries, bisa email saya di viki.woelandari@gmail.com. Happy reading!


Find Me On :




Silakan Contact untuk mendapatkan e-book ini secara gratis dari saya


Kenapa Pilih Backpacker-an? 
Kenapa Menikah Sebaiknya dengan Yang Selevel? 
Menghormati Vagina 
Ngomongin Otak Perempuan Wilayah Seks 
Gymball Untuk Ibu Hamil 
My First Capsule Hotel 

Proudly Part of :