PARENTIME

SELF REMINDER

CUAP - CUAP

NIKAH ASIK

JALAN BARENG

SCHOLARSHIP



Pola Asuh Lintas Generasi

07 Juli 2020 by Viki Wulandari


Dulu aku kira perjuangan seorang ibu puncaknya adalah pada saat melahirkan. Ternyata aku salah. Perjuangan masih akan terus menanjak hingga ia menyusui bayinya. Belum lagi lambe-lambe yang nyinyir tentang pola pengasuhan dan pilihan-pilihan yang diberikan kepada anak. Biasanya lintas generasi saja sudah cukup memberikan jurang pemisah yang cukup jauh, dan hal ini adalah salah satu penyebab konflik dengan generasi yang lebih tua. Yang tua menganggap, pola asuhnya sudah paling benar karena toh, anak-anaknya (kita) sekarang baik-baik saja dengan pola asuh seperti itu. Yang muda menganggap bahwa kini pola-pola asuh zaman dulu itu harusnya sudah bergeser lebih kekinian.


Mengasuh anak itu gak ada sekolahnya, hanya learning by doing. Sambil belajar, ya sambil jalan juga. Bahkan pengasuhan anak yang satu dengan yang lainnya juga bisa jadi berbeda. Tiap anak itu unik, makanya gak bisa disamakan rata cara memperlakukannya. Saya pun masih belajar tentang pola pengasuhan ini. Semua orang tua mau yang terbaik untuk anaknya.


Baca juga Belajar Hakikat Rezeki dari Humaira


Generasi atas (mertua dan orang tua) kadang menjadi salah satu fokus lainnya. Saya dan suami di awal-awal kami mulai ada Humaira, sudah berkomitmen akan mengasuhnya berdua. Maksud saya, pihak ketiga setelah kami berdua hanya adviser, pemberi saran yang boleh diterima ataupun tidak. Bahkan kami sudah tegas membatasi, mana yang boleh dan mana yang tidak boleh dimasuki campur tangan orang tua kami masing-masing.


Pernah waktu aku akan ke Bangkok, semuanya memberi masukan tentang 'akan dimana Humaira'. Apakah ikut aku? Apakah tinggal di rumah neneknya? Apakah ikut aku sekaligus neneknya juga kubawa kesana? Semuanya menyusun rencana. Aku orang yang paling tidak bisa melihat orang lain kecewa. Saran dari mertua dan orang tuaku berlawanan. Maka saya dan Buya bermusyawarah dari hati ke hati. Akan dikemanakan keputusan kami.


Baca juga Jadi Ibu Itu Harus Siap Salah


Satu hal yang paling kuingat, Buya pernah mengatakan ini ke saya, "Humaira itu anak kita berdua. Apapun yang kita putuskan untuk dia, maka itu yang akan jadi pilihan kita. Ibu (mertuaku) ataupun Mamak (ibuku) hanya memberikan saran. Keputusan tetap ada di tangan kita berdua sebagai orang tuanya Humaira. Kita yang akan dimintai pertanggungjawaban kalau Humaira kenapa-kenapa". Fix, saya menguatkan hati untuk berkeputusan saat itu, dengan dihiasi linangan air mata tentunya.


Inilah yang selalu aku bilang, bahwa aku sangat tidak setuju bahwa anak itu diasuh oleh neneknya, karena secara fitrah, anak itu ya diasuh oleh orang tuanya. Jangankan pola pengasuhan nenek yang bisa jadi terpaut 40-50 tahunan, dengan orang tuanya saja yang (paling tidak) terpaut 20-an tahun kadang masih ada gap karena kurangnya akses informasi si orang tua tentang hal kekinian dalam parenting. Hal kekinian yang kumaksud misalnya, penelitian-penelitian terbaru tentang cara mengasuh anak, pola asuh yang dapa meningkatkan mutu pendidikan, dan hal-hal yang secara langsung ataupun tidak pasti berpengaruh ke pengasuhan.


Baca juga Apa Yang Dicari Dalam Sebuah Pernikahan?


Zaman sekarang, informasi tidak ada yang bisa disembunyikan. Tinggal kita saja yang pandai-pandai mengakses informasi apa yang akan kita pilih sebagai orang tua agar kapasitas kita mampu menampung apa yang seharusnya kita berikan ke anak. Jangan sampai, kita kewalahan sendiri karena di masa depan kita tidak mengerti dan jurang pemisah membuat obrolan kita dan anak-anak menjadi tidak nyambung.


Menjadi orang tua memang tidaklah mudah, tapi tidak boleh juga kita menyerah pada keadaan. Karena menjadi orang tua itu, pertanggungjawabannya kekal sampai ke akhirat. Mengasuhnya dengan pengasuhan terbaik itu adalah hak anak-anak. Jangan sampai kelak kita menyesal karena tidak memberikan yang terbaik untuknya.


Tags : parentime, polaasuh, pengasuhan, anak,


Bagikan Artikel ini :


BACA JUGA :


⟵ Berkurban, Bukan Potong Sapi Genetika Jodoh ⟶


Purna Tugas 23 Januari 2021
Lelaki Superpower 12 Januari 2021
Dua Tahun (Merasa) Memiliki 20 Desember 2020
Cerita Kondangan ‘Melanggar Hukum’ 14 Desember 2020
Nursery Room yang Dirindukan 03 Desember 2020
Dimsum Anti GTM-GTM Club 12 Agustus 2020
Cinta di Perjalanan 03 Agustus 2020
Berkurban, Bukan Potong Sapi 31 Juli 2020
Pola Asuh Lintas Generasi 07 Juli 2020
Bekal Untuk Suami 01 Juli 2020
Genetika Jodoh 20 Juni 2020
[Review] Extraction (2020), Kenangan Yang Lebih Mahal Dari Pengkhianatan 16 Juni 2020
Gerakan Eat The Rainbow Untuk Asupan Gizi Lebih Baik, Gimana Ceritanya? 13 Juni 2020
It is A Girl: Film Dokumenter Tentang Budaya Patriarki Hingga Mengungkap Fakta Female Infanticide 04 Juni 2020
Dalam Tiga Lapis Kegelapan 27 Mei 2020

--Lihat Artikel Lainnya --



Saya ibu satu anak yang senang menuliskan kegiatan sehari-hari saya dan berharap orang lain mendapatkan kebaikan dan hikmah darinya. Saya juga menulis beberapa artikel mengenai perjalanan saya di beberapa tempat.


Website ini adalah tempat saya menuangkan ide dan pendapat tentang suatu hal. Saya juga menerima advertorial. Contoh yang pernah saya kerjakan bisa dilihat disini. Untuk sharing atau bussiness inquiries, bisa email saya di viki.woelandari@gmail.com. Happy reading!


Find Me On :




Silakan Contact untuk mendapatkan e-book ini secara gratis dari saya


Kenapa Pilih Backpacker-an? 
Kenapa Menikah Sebaiknya dengan Yang Selevel? 
Menghormati Vagina 
Ngomongin Otak Perempuan Wilayah Seks 
Gymball Untuk Ibu Hamil 
My First Capsule Hotel 

Proudly Part of :