PARENTIME

SELF REMINDER

CUAP - CUAP

NIKAH ASIK

JALAN BARENG

SCHOLARSHIP



[Review] What Happened To Monday: Sebuah Refleksi Pentingnya Menancapkan Visi Untuk Keluarga

19 Mei 2020 by Viki Wulandari


Aku kemarin nonton sebuah film yang menurutku banyak pelajaran baik di dalamnya. Setiap film pasti punya pesan tersendiri untuk disampaikan kepada pemirsanya. Demikian pula dengan film yang bersetting di masa depan ini. Awalnya aku hanya tertarik karena tema yang diangkat tentang membludaknya populasi di seluruh dunia. Aku tertarik isu ini dan memutuskan untuk menontonnya. Film yang rilis 2017 lalu ini berhasil mendapat rating IMDb 6.9/10 padahal kalau aka boleh rating pribadi 8/10. alurnya yang twist dan tidak terduga sama sekali karena tidak ada hubungan kaitan langsung dengan cerita sepanjang durasi bikin kita mikir. Wow!


Spoiler Dikit


Genre film ini adalah fiksi thriller yang menggambarkan tentang krisis yang terjadi di seluruh dunia karena populasi manusia yang tidak terbendung lagi. Kelaparan dan kondisi ketersediaan bahan pangan kian menipis sementara jumlah populasi manusia kian banyak. Kekhawatiran para ilmuwan menjadi kenyataan pada film yang digambarkan terjadi pada 2043.


Pemerintah saat itu lalu membuat kebijakan bahwa tiap satu anggota keluarga hanya boleh memiliki satu anak saja. Jika dalam keluarga memiliki lebih dari satu anak, maka pemerintah sudah menyiapkan cryosleep untuk menampung ‘anak tambahan’ itu. Cryosleep digaungkan sebagai ‘tempat tidur’ bagi anak-anak itu, yang dibekukan sementara dan dibangunkan kembali jika kondisi sudah dapat dikendalikan.


Di tengah suasana genting nan mencekam seperti ini, seorang ibu malah melahirkan bayi kembar 7. Ketujuh bayi ini kemudian diasuh oleh kakeknya secara sembunyi-sembunyi karena ibunya meninggal saat melahirkan mereka. Terrence, sang kakek membesarkan mereka dengan sangat hati-hati mengingat rezim sedang gencar melakukan pendisiplinan aturan untuk menekan angka penduduknya. Mereka bertujuh dinamai sesuai hari: Sunday, Monday, Tuesday, Wednesday, Thursday, Friday dan Saturday. Tujuh bersaudara ini hanya boleh keluar rumah di hari sesuai nama mereka. Dalam rumah yang disesuaikan oleh kakeknya, mereka dididik disiplin dan menyatukan persepsi. Mereka dilatih untuk bertahan hidup.


Hingga suatu hari yang kelabu tiba dan menghancurkan semua yang mereka punya. Rezim akhirnya tahu dengan semua rencana yang dibangun 30 tahun lebih itu. Slama itu, mereka berhasil dan akhirnya terbongkar. Petualangan seru mereka berakhir dengan ending yang twist dan sangat tidak terduga.


Buat yang mau nonton trailernya, nih dari Netflix.



Pelajaran Yang Bisa Dipetik


Aku melihat sisi baik dari film ini adalah bahwa darah itu memang lebih kental dari air. Maksudnya, saudara dan keluarga itu harus lebih erat dibanding dengan mereka yang memberi kita kebutuhan hidup. Dalam film ini, ada satu orang yang berkhianat dan menghancurkan kebiasaan hidup yang sudah dijalani lebih dari 30 tahun ini. Persaudaraan mereka hangat hingga bisa mengelabui pemerintah yang canggih.


Sebenarnya, pokok maslaahnya adalah percintaan. Masalah paling dasar dan fitrah yang dimiliki oleh manusia: ingin mencintai, dicintai dan berpasangan. Masalah mulai muncul saat Monday hilang di hari Senin saat gilirannya keluar. Tuesday keluar di hari Selasa untuk mencari fakta tentang saudarinya yang tidak kembali. Ini sudah menyalahi aturan yang seharusnya mereka hanya keluar satu orang saja, tapi ini dua orang yang ada di luar melewati barikade pos pemeriksaan milik pemerintah.


Drama dimulai, konflik satu per satu kian rumit dan menegangkan. Kita dibuat penasaran dengan problem solving apa yang akan dilakukan untuk memutus mata rantai agar satu per satu saudara ini tidak tewas. Pelajaran yang bisa diambil adalah kerukunan keluarga bersaudara ini yang sangat patut diacungi jempol.


What Happened To Monday


Terrence dengan pendidikannya yang tegas mmapu memunculkan rasa saling memiliki di antara mereka bertujuh meski di tengah-tengah cerita, mereka rasanya ingin memberontak dan mengakhiri penyamaran serta ingin menjadi diri mereka sendiri. Tapi mereka telah menjalani ini semua selama tiga puluh tahun, tentu tidak mudah untuk menyudahi apa yang sudah dimulai.


Jadi Gimana?


Aku kalau melihat sebuah film masih bisa menggunakan akal sehatku menimbang apa yang sepatutnya diambil dan tidak. Film ini mungkin bagi sebagian kecil orang, mengambil pelajaran bahwa membatasi anak itu penting agar kejadian ini tidak benar-benar terjadi. Orang akan berpikir bahwa dunia akn mencapai satu titik over population macam ini jika sampai sekarang kita tidak sadar tentang pentingnya ber-KB.


Aku punya pandangan sendiri tentang jumlah soal anak ini. Dari dulu bahkan sebelum menikah, aku belum punya keinginan untuk punya anak banyak, tapi tidak juga nyinyir dan memprotes mereka yang punya banyak anak. Aku justru kagum, mereka yang punya banyak anak dan masih sempat menuntut ilmu itu wow sekali. Belum lagi kalau anak-anak mereka semuanya berprestasi dan ahli agama. Rasanya senang sekali punya bibit-bibit unggul di muka bumi ini.


Tentang punya anak berapa, aku tidak pernah punya target tapi yang paling jelas, berapapun jumlah anak, mereka harus lahir dari visi yang jelas. Maksudku, kelahiran anak-anakku haruslah sebuah perhitungan yang matang dan bervisi jauh ke depan, bukan hanya “Oh, iya. Humaira udah besar, saatnya punya adik”. Big no! Aku tidak ingin anak itu hanya digunakan orang tuanya untuk menutup mulut orang-orang yang bertanya tentang jumlah anak di setiap perjumpaan. Bagiku, punya anak itu adalah sebuah visi penting yang pada perjalanannya harus penuh dengan tanggung jawab.


Terus, apa aku percaya dengan titik over population itu? Aku tidak ingin mengatakan tidak percaya atau percaya. Tapi bagiku, tiap anak yang lahir ke dunia itu sudah punya rezekinya masing-masing. Setiap anak yang lahir, itu sudah bawa kadar makanan dan rezekinya sendiri-sendiri. Kalau barangkali kita mengira bahwa anak-anak ini makan dari hasil jerih payah kita, itu salah. Itu sejatinya adalah rezeki mereka yang dititipkan melalui usaha kita. Setiap manusia dilahirkan itu sudah ada hitungan presisi mengenai hal itu, jadi Allah gak mungkin salah hitung kan?


Menanamkan Visi dalam Keluarga


Sisi pembelajaran ini adalah salah satu sisi dari banyak hal yang bisa diambil hikmahnya. Pandangan visioner Terrence dalam mendidik ketujuh cucunya patut diakui bahwa ia telah berhasil menanamkan visi yang jauh ke depan. Ia bisa mendidik tujuh kepala untuk mengikuti apa yang ia cita-citakan demi kebaikan mereka semua. Meski didikan dan pandangan hidupnya hanya ditampilan beberapa menit di opening dan awal cerita, tapi dari sanalah tiang pancang kehidupan selama 30 tahun itu dibangun. Pandangan visionernya tentang bentuk seperti apa yang akan ia bangun sudah tergambar sejak mereka kecil.


Dalam pengasuhan kakeknya, setiap anak telah mengerti bahwa does and doesn’t itu jelas. Ketika salah satu dari mereka melanggar, misalnya. Ada satu scene digambarkan bahwa seorang dari tujuh orang itu melanggar aturan untuk keluar kecuali di hari sesuai namanya. Lalu ia pulang dan kehilangan salah satu ujung jarinya, maka semua saudaranya harus juga kehilangan jarinya demi menjaga visi agar tetap berjalan sesuai rencana. Meski dengan berat hati setiap anak harus dipotong ujung jarinya agar sama, tapi itu tetap harus dilakukan demi kebaikan semua orang, dan itu terbukti bekerja hingga tiga puluh tahun lamanya.


Visi dalam keluarga kadang memang akan menyangkut tentang kerelaan hati orang tua. Tapi sejauh apa kita menginginkan visi itu tercapai meski berat hati, maka sejauh itu pula kita akan berhasil mempertahankan visi keluarga untuk terus berjalan pada relnya dan sampai pada tujuan pada akhirnya. Keluarga yang bervisi adalah keluarga yang tahu mau diapakan bingkai keluarga itu sendiri, bukan yang mengalir apa adanya menunggu takdir menjemput mereka dengan keadaan pasrah.


Tags : Review, Film, Netflix, What, Happened, To, Monday, Seven, Sisters,


Bagikan Artikel ini :


BACA JUGA :


⟵ Apa Yang Dicari dalam Sebuah Pernikahan? Haid di 10 Hari Terakhir Ramadhan, Jangan Sedih Girls. Masih Bisa Lakukan Ini! ⟶


Nursery Room yang Dirindukan 03 Desember 2020
Dimsum Anti GTM-GTM Club 12 Agustus 2020
Cinta di Perjalanan 03 Agustus 2020
Berkurban, Bukan Potong Sapi 31 Juli 2020
Pola Asuh Lintas Generasi 07 Juli 2020
Bekal Untuk Suami 01 Juli 2020
Genetika Jodoh 20 Juni 2020
[Review] Extraction (2020), Kenangan Yang Lebih Mahal Dari Pengkhianatan 16 Juni 2020
Gerakan Eat The Rainbow Untuk Asupan Gizi Lebih Baik, Gimana Ceritanya? 13 Juni 2020
It is A Girl: Film Dokumenter Tentang Budaya Patriarki Hingga Mengungkap Fakta Female Infanticide 04 Juni 2020
Dalam Tiga Lapis Kegelapan 27 Mei 2020
Ladies, Be Smart (And Beautiful)! 25 Mei 2020
Jadi Ibu Itu Harus Siap Salah 21 Mei 2020
Haid di 10 Hari Terakhir Ramadhan, Jangan Sedih Girls. Masih Bisa Lakukan Ini! 19 Mei 2020
[Review] What Happened To Monday: Sebuah Refleksi Pentingnya Menancapkan Visi Untuk Keluarga 19 Mei 2020

--Lihat Artikel Lainnya --



Saya ibu satu anak yang senang menuliskan kegiatan sehari-hari saya dan berharap orang lain mendapatkan kebaikan dan hikmah darinya. Saya juga menulis beberapa artikel mengenai perjalanan saya di beberapa tempat.


Website ini adalah tempat saya menuangkan ide dan pendapat tentang suatu hal. Saya juga menerima advertorial. Contoh yang pernah saya kerjakan bisa dilihat disini. Untuk sharing atau bussiness inquiries, bisa email saya di viki.woelandari@gmail.com. Happy reading!


Find Me On :




Silakan Contact untuk mendapatkan e-book ini secara gratis dari saya


Kenapa Pilih Backpacker-an? 
Kenapa Menikah Sebaiknya dengan Yang Selevel? 
Menghormati Vagina 
Ngomongin Otak Perempuan Wilayah Seks 
Gymball Untuk Ibu Hamil 
My First Capsule Hotel 

Proudly Part of :